Jumat, 28 Mei 2010

Proposal

Pengertian Proposal

Sebelum memulai penulisan karya ilmiah, hal-hal yang perlu disiapkan adalah topik tulisan yang sudah jelas, perumusan masalah (research question / thesis statement) yang pasti, dan sumber-sumber informasi yang menunjang. Dengan berbekal 3 hal tersebut, proposal disusun untuk memberikan gambaran awal dari tulisan karya ilmiah atau penelitian yang akan dibuat/disusun.
Proposal merupakan gambaran awal dari penelitian atau tulisan karya ilmiah yang akan dibuat.

Jenis-Jenis Proposal

Berdasarkan bentuknya, proposal dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. proposal berbentuk formal,
2. semiformal,
3. nonformal.

Proposal berbentuk formal terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:

1) Bagian pendahuluan
Yang terdiri atas :
a. sampul dan halaman judul,
b. surat pengantar (kata pengantar)
c. ikhtisar, daftar isi
d. pengesahan permohonan

2) Isi proposal, terdiri atas :
a. Latar belakang
b. Pembatasan masalah
c. Tujuan
d. Ruang lingkup
e. Pemikiran dasar (anggapan dasar)
f. Metodologi, fasilitas, personalia (susunan panitia), keuntungan dan kerugian,
waktu, dan biaya.

3) Bagian pelengkap penutup
Yang berisi :
a. Daftar pustaka,
b. Lampiran,
c. Tabel, dan sebagainya.

Proposal semiformal dan nonformal merupakan variasi atau bentuk lain dari
bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak
selengkap seperti proposal bentuk formal.


Isi Proposal

Jenis dari isi proposal ada dua adalah

a. Isi proposal yang berbentuk kompleks
b. Yang sederhana meliputi:
nama kegiatan (judul), dasar pemikiran, tujuan diadakannya kegiatan, ruang
lingkup, waktu dan tempat kegiatan, penyelenggara (panitia), anggaran biaya,
dan penutup.


Ciri-Ciri Proposal yaitu

1. Proposal dibuat untuk meringkas kegiatan yang akan dilakukan
2. Sebagai pemberitahuan pertama suatu kegiatan
3. Berisikan tujuan-tujuan, latar belakang acara
4. Pastinya proposal itu berupa lembaran-lembaran pemberitahuan yang telah dijilid
yang nantinya diserahkan kepada si empunya acara
5. dan lain-lain yang sulit untuk dijelaskan (dicari).


Jenis - Jenis Proposal

Proposal Penelitian dibagi 4 yaitu:
1. Proposal Penelitian Pengembangan
2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
3. Proposal Penelitian Kualitatif
4. Proposal Penelitian Kuantitatif

Ket :

1. Proposal Penelitian Pengembangan
Kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk
memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan
ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau
temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah.


Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan
menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan
disertasi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, karena karakteristik
kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda.


Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu
permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau
teori untuk memecahkan suatu permasalahan.

2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
Telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya
bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang
relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan
data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan
cara baru dan atau untuk keperluan baru.

Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlukan sebagai sumber ide untuk
menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan
deduksi dari pengetahuan yang sudah ada, sehingga kerangka teori baru dapat
dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.

3. Proposal Penelitian Kualitatif
Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-
kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri
peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan
cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna
(perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh
karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang
bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang
penuh keotentikan.

4. Proposal Penelitian Kuantitatif
Suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif.
Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun
pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi
permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk
memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di
lapangan.


Hal-hal yang perlu dituliskan pada proposal adalah :

1. Latar belakang
Berisi latar belakang menulis atau melakukan penelitian pada topik yang
dipilih, hal-hal yang menarik atau menimbulkan pertanyaan dari topik ini,
pentingnya topik ini untuk diangkat sebagai tulisan atau untuk diteliti.

2. Perumusan masalah
Berisi thesis statement atau research question yang ditulis secara singkat dan
jelas dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan.

3. Batasan masalah
Menjelaskan batasan-batasan penelitian atau tulisan, misalnya hal-hal yang
tidak akan dibahas atau diteliti, lingkungan yang ditentukan sebagai pembatas,
batasan data atau jumlah materi yang melingkupi penelitian atau tulisan.


4. Tujuan penelitian
Tujuan ditinjau dari aspek keilmuan dan aspek praktis dari sudut pandang
pengguna (berhubungan dengan manfaat penelitian/penulisan)

5. Landasan teori
Secara singkat memberikan penjelasan teori-teori pendukung yang akan
digunakan dalam menulis atau melakukan penelitian.

6. Spesifikasi sistem
Menjelaskan secara umum kebutuhan software/hardware, kemampuan program/sistem

7. Rencana tahapan penelitian
Gantt chart dari rencana pelaksanaan penelitian

8. Daftar pustaka
Bibliography sumber-sumber informasi yang digunakan dengan mengikuti aturan
sebagai berikut :

a. Untuk pustaka dalam bentuk buku yang diterbitkan terdiri atas :

nama pengarang (nama keluarga, nama depan), Judul buku (dicetak miring),
Kota Penerbit : Nama Penerbit, tahun penerbitan.

Sebagai contoh :
Cleveland, Donal D. Introduction to Indexing and Abstracting.
Englewood : Librairies Unlimited, Inc., 2001.

b. Pustaka dalam bentuk Jurnal tercetak : nama pengarang (nama keluarga, nama
depan, “judul artikel”, Nama Jurnal (cetak Miring) , Nomer, Bulan dan Tahun
Terbit, halaman.
Contoh: Dugan, Maire A. “Nested Paradigm”, Annals, IX, March 2001, hlm.56.

c. Pustaka dalam bentuk Jurnal Online : nama pengarang (nama keluarga, nama
depan,“judul artikel”, nama jurnal (cetak miring), nomer, bulan dan tahun
terbit,halaman, nama database. Database on-line. Nama vendor database. Tgl
akses artikel tersebut(tgl/bln/tahun).

Contoh:
McRae, John R. "Buddhism." Journal of Asian Studies 54, no. 2, 1995, hal
354-371. ABI/Inform. Database on-line. UMI-Proquest; tgl akses 13 May 1996.

Woodworth, Griffin Mead, “Hackers, Users, and Suits: Napster and
Representations of Identity”,Popular Music & Society., Vol. 27 no 2, Juni
2004, hal 161-184, Academic Search Premier. Database online. EBSCO. Tgl
akses 21 Sept 2005.




Contoh Proposal di ambil dari http://indonesialanguage.blogspot.com/2008/03/materi-bahasa-indonesia_07.html

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME karena hanya dengan berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan proposal ini dengan baik.
Proposal ini membahas mangenai penanganan bencana banjir di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Penanganan akan dilakukan secara bertahap dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Korban bencana banjir akan mendapatkan sumbangan berupa makanan, pakaian, serta obat-obatan. Ini merupakan langkah yang diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Bekasi dalam menangani musibah banjir kali ini.
Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang membantu tersusunnya proposal ini. Kami dapat menyadari dalam pembuatan proposal ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi isi materi maupun dari segi penulisan proposal ini, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan. Terima kasih.










Penjelasan Mengenai Kegiatan Bhakti Sosial

Proposal ini akan menjelaskan mengenai kegiatan Bhakti Sosial yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Bekasi dalam menangani musibah banjir tahun ini. Banyak sukarelawan-sukarelawan yang telah ikut membantu tersusunnya makalah ini serta banyakjuga bantuan-bantuan yang telah kami terima berupa : beras, mie instan, pakaian, selimut,obat-obatan, perlengkapan mandi, tikar, dan uang. Bantuan-bantuan ini semua akan dijabarkan dalam tabel berikut ini :

No. Jenis Bantuan Banyaknya Barang Telah didapatkan sudah disumbangkan
1. Beras 60 karung 25 karung
2. Mie instan 500 dus 200 dus
3. Pakaian Cukup tersedia Sekian banyak
4. Selimut 150 buah 120 buah
5. Tikar 120 buah 80 buah
6. Obat-obatan Tersedia Sekian banyak
7. Perlengkapan mandi Tersedia Sekian banyak
8. Uang yang diterima Rp. 3.000.000.000.- Rp. 1.750.000.000,-


Demikian yang telah kami sampaikan. Kami sangat berterima kasih sekali atas kerja samanya, bantuan dari sukarelawan yang telah membantu, dermawan-dermawan yang ikhlas menyumbangkan bantuannya berupa hal-hal yang yang sudah dijabarkan diatas tersebut. Terima kasih atas bantuan sumuanya.



PENUTUP

Kami ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini, terutama kepada dermawan-dermawan yang telah membantu kami dari segi material untuk korban banjir di wilayah Bekasi. Mungkin dalam proposal ini terdapat banyak tulisan yang kurang berkenan dihati sdr. sekalian, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu, kami harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah kami selanjutnya. Dan semua bantuan-bantuannya dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Amien.





Bekasi, Februari 2007





Tim Penyusun





















JL. JEND. SUDIRMAN KM.32
KOTA BEKASI


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.....................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................
1.2. Tujuan ....................................................................
1.3. Jenis Kegiatan.............................................................
1.4. Waktu dan Tempat...........................................................
1.5. Susunan Acara..............................................................
1.6. Susunan Panitia............................................................
1.7. Rencana Anggaran...........................................................

BAB II PENUTUP
2.1.Kesimpulan..................................................................





LATAR BELAKANG


Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang selalu peduli dan saling bekerja sama satu dengan yang lainnya. Hal ini juga tercantum dalam Pancasila sila ke-2 yang berbunyi ,”Kemanusiaan yang adil dan beradab”.
Selain itu, kini bangsa Indonesia sedang ditimpa berbagai macam bencana alam. Untuk itu, kita sebagai rakyat Indonesia yang cinta tanah air, kita wajib peduli terhadap bencana-bencana tersebut dan juga kita harus bersama-sama menggalangkan jiwa untuk membantu keluarga-keluarga lainnya yang tertimpa musibah.
Oleh karena itu, kami berniat untuk mengadakan PENSI (Pentas Seni) untuk menggalang dana melalui asara BAKSOS (Bakti Sosial), dan juga acara tersebut berguna untuk mengembangkan kretifitas seni siswa SMA Martia Bhakti. Semoga acara ini dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.


TUJUAN

Adapun tujuan dengan diadakannya Pensi ini adalah sebagai berikut :
Untuk menunjukkan sejauh mana kretifitas siswa,
Untuk penggalangan dana,
Untuk mengembangkan potensi dalam diri siswa terutama pada bidang seni, dan
Untuk membantu korban bencana alam.


JENIS KEGIATAN

Adapun kegiatan yang akan dilaksakan antara lain :
Pensi
Bakti Sosial
Bazaar

Waktu dan Tempat

Adapun waktu kegiatan PENSI tersebut diadakan pada :
Hari, tanggal : Sabtu, 8 Desember 2007
Tempat : SMA Martia Bhakti Bekasi
Waktu : Pukul 09.00 – selesai


SUSUNAN ACARA

09.00 – 10.00 : Sambutan Panitia
10.00 – 11.00 : Pembacaan ayat-ayat suci al-qur’an
11.00 – 12.30 : Pembukaan Bazaar
12.30 – 15.30 : Acara Hiburan
15.30 – 17.00 : Bakti Sosial
17.00 – 17.30 : Doa dan penutup

SUSUNAN PANITIA

- Ketua Pelaksana : Rifky Rahmansyah
- Sekretaris : Robby Azmy
- Bendahara : Ramadhan Prariyadi
- Sie. Acara : Muhammad Aziz
- Sie. Humas : Indarto
- Sie. Dekorasi : Aprillia Susanti
- Sie. Perlengkapan : Rivani Erlanda

RENCANA ANGGARAN

1. Pemasukan
- Bantuan dari donatur Rp 8.000.000,-
- Sponsor dari INDOSAT Rp 10.000.000,-
- Sponsor dari “Prambors” Rp 7.250.000,-
- Sponsor dari Coca-cola Rp 2.750.000,-
- Sponsor dari HONDA Rp 10.000.000,- + Rp 38.000.000,-

2. Pengeluaran
- Sewa perlengkapan Rp 5.000.000,-
- Sewa artis Rp 19.000.000,-
- Dekorasi Rp 2.000.000,-
- Konsumsi Rp 5.500.000,-
- Bakti sosial Rp 5.000.000,-
- Biaya tak terduga Rp 2.000.000,- + Rp 38.000.000



PENUTUP

Dengan demikian proposal ini dibuat dalam rangka menggalang dana untuk korban bencana alam dan juga agar dapat meningkatkan kretifitas siswa SMA Martia Bhakti. Kami berharap, acara ini bisa bermanfaat banyak. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh



Ketua Sekretaris Mengetahui,
Kepala Sekolah SMA Martia Bhakti




( Rifky Rahmansyah) ( Rivani Erlanda) ( Fatahillah M.Pd. )

Senin, 26 April 2010

Hakikat Masalah Penilitian

Pengertian Penelitian

Penelitian adalah langkah sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris (Sudjana, 2001).

Masalah Penelitian

Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, atau kesenjangan antara teori dengan praktik, kesenjangan antara cita dengan realita, atau sesuatu yang memerlukan jawaban dan penjelasan. Tidak selamanya, masalah dapat menggambarkan kesenjangan, tapi terkadang juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Kualifikasi Masalah

Setidaknya ada dua kualifikasi masalah yang baik, yakni mempunyai nilai penelitian dan layak untuk diteliti. Masalah itu harus memiliki nilai penelitian, yakni dapat diuji, orisinal, dan urgen untuk diteliti, serta dapat memberikan kontribusi terhadap pegembangan ilmu, kebijakan atau yang sebangsanya. Kemudian masalah juga harus didukung oleh data dan tidak ada kendala bagi peneliti untuk mengakses data tersebut dari sumber-sumber primernya

Macam-macam Masalah

- Masalah deskriptif biasanya digunakan untuk model-model penelitian variabel tunggal, atau beberapa variabel tapi tidak mengukur intercorelatioanlnya, dan peneliti bermaksud hanya mendeskripsikan masing-masing variabel tersebut, seperti, bagaimana sikap masyarakat terhadap kehadiran hypermarket di kota kabupaten ?, Apakah layanan staf front desk sudah memberikan kepuasan bagi pelangan ?.

- Model komparatif dikembangkan jika penelitian dilakukan untuk membandingkan satu atau lebih variabel dalam dua kelompok sampel. Seperti, Adakah perbedaan produktifitas pemasaran antara karyawan tetap dengan karyawan kontrak ? dan yang sebangsanya.

- Sedangkan model asosiatif dikembangkan untuk penelitian yang bertendensi untuk menjelaskan pengaruh atau hubungan antara dua variabel atau lebih, seperti apakah motivasi berhubungan dengan prestasi kerja ?, apakah sistem penggajian mempengaruhi prestasi kerja karyawan ?, dan yang sebangsanya.

Metode Menemukan Permasalahan Penelitian

Seperti telah dikemukakan didepan bahwa menentukan masalah adalah pekerjaan yang sangat penting. Permasalahan hendaknya memiliki dampak dimasa yang akan datang. Jika masalah yang akan diangkat ternyata tidak memiliki dampak dimasa mendatang, sebaiknya tidak perlu di angkat dalam karya ilmiah. Seperti pada Mahasiswa yang sering mengalami jalan buntu saat memikirkan masalah apa yang akan diungkap dalam karya ilmiahnya.
Ada beberapa cara untuk membantu menemukan permasalahan, diantaranya melalui
( a ) diskusi, ( b ) daya khayal dan ( c ) intuisi. Berikut ini ketiga cara tersebut yaitu :

a) Diskusi
Diskusi merupakan cara yang mudah dilakukan untuk menentukan permasalahan. Diskusi dapat dilakukan dengan teman atau penulis senior. Melalui diskusi dapat memberi berbagai alternatif pemecahan, yaitu :
1. Orang lain dapat melihat persoalan dari sisi lain sehingga memungkinkan memberi
ide-ide baru yang bermanfaat.
2. Dari berbagai pandangan peserta diskusi, dapat disintesikan menjadi suatu ide baru.
3. Melalui diskusi, masing-masing ide akan mendapat kritikan sehingga diperoleh ide
baru yang benar-benar solid.
4. Masalah yang ditemukan melalui diskusi benar-benar masalah yang sangat bermanfaat,
bukan merupakan permasalah peneliti sendiri.
5. Kemungkinan terjadi pengulangan permasalahan menjadi semakin kecil, karena telah
dicermati oleh orang banyak ( peserta diskusi ).

b) Menggunakan Potensi Daya Khayal
Pada situasi tertentu, terutama saat bebas dari pekerjaan fisik maupun mental yang cukup melelahkan, orang sering melanturkan pikiran ke arah di luar persoalan yang
sedang dihadapi. Proses ini tentunya akan menyerap energi yang sebenarnya dapat
dimanfaatkan untuk memecahkan masalah- masalah yang penting.
Pada waktu luang misalnya menjelang tidur sering pikiran diperbolehkan berkembang kemana-mana secara leluasa bahkan apa yang ada dalam pikiran adalah hal-hal yang sangat aneh ( sangat tidak mungkin ). Memanjakan pikiran secara leluasa ini dinamakan melamun. Melamun adalah aktifitas yang seharusnya dijauhi karena tidak akan menemukan pemecahan masalah maupun menemukan masalah dalam kontek penelitian .
Aktifitas otak yang mirip dengan melamun adalah daya khayal. Kedua aktifitas ini sebenarnya tidak sama, hanya orang sering menyamakan kedua pengertian tersebut. Kalau orang sedang memecahkan masalah, langkah-langkah yang lazim ditempuh adalah menghubung-hubungkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui pengalaman praktek maupun melalui membaca buku yang relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi. Namun demikian terkadang munculnya pemikiran untuk memecahkan masalah tanpa berdasarkan pengalaman yang telah diperoleh dimasa lalu. Orang dapat menghubungkan beberapa fenomena tanpa melalui tahap – tahap yang lazim. Kemampuan ini dinamakan kemampuan daya khayal. Tiap orang mempunyai day khayal tidak sama, tergantung sejauh mana mereka sering melatih. Kemampuan daya khayal juga dipengaruhi oleh pembawaan sejak lahir.
Potensi daya khayal dapat ditingkatkan dengan cara sering menggunakan daya khayal setiap akan memecahkan masalah apa saja atau saat mencari permasalahan penelitian. Dalam menggunakan daya khayal, coba bayangkan atau buat gambaran dalam pikiran tentang sesuatu yang berkaitan dengan apa yang diinginkan .
Dengan memiliki potensi daya khayal yang tinggi, dapat diterapkan potensi tersebut dalam mencari masalah penelitian. Daya khayal dapat dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi dalam mencari permasalahan penelitian. Kecuali itu daya khayal dapat digunakan untuk merangsang penerapan hasil penelitian yang lebih tepat, sebab dengan memanfaatkan daya khayal seseorang dapat membayangkan implikasi-implikasi hasil penelitian. Daya khayal memungkinkan kita untuk menjelajah ke daerah yang belum kita kinal bersamaan dengan itu akal memeriksa temuan-temuan dengan lebih teliti .

c) Memanfaatkan Intuisi
Dalam memecahkan masalah atau mencari masalah penelitian, intuisi sangat besar manfaatnya. Istilah intuisi ada yang menyebut firasat atau ilham. Pengertian tersebut pada dasarnya sama yaitu suatu pengertian atau penjelasan yang datangnya secara tiba-tiba.
Terjadinya intuisi tidak tentu datangnya, maka sebaiknya jika kita mendapat intuisi, langsung dicatat. Sering terjadi timbulnya intuisi justru pada saat seseorang tidak memikirkan secara sadar mengenai masalah yang dihadapi. Sebagai contoh, yaitu peristiwa yang dialami oleh Archimedes. Waktu beliau sedang merendam diri dalam bak air, tiba-tiba ditemukan pemecahan masalah yang sedang dipikirkan yang dikenal “ hukum Archimedes “.
Intuisi dapat terjadi pada saat sedang tidur. Singer, penemu mesin jahit menemukan lubang jarum mesin jahit pada ujungnya ketika dia dalam tekanan yang sangat berat dari pihak yang memberi proyeknya. Dia bermimpi dikepung orang-orang liar yang menusuk – nusuk dengan tombak yang berlobang diujungnya.
Pada prinsipnya intuisi dapat timbul kapan saja, yaitu pada saat orang sedang berusaha memecahkan masalah atau beristirahat sebentar setelah berusaha dan mengalihkan pikiran ke hal-hal lain. Bagaimana cara memperoleh intuisi ? Ada beberapa cara untuk memperoleh intuisi yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan permasalahan penelitian atau tujuan – tujuan lain, yaitu :
1. Pikirkan secara mendalam mengenai persoalan hingga pikiran kita jenuh. Dengan penjenuhan pikiran, akan memungkinkan bekerjanya pikiran bawah sadar.
2. Melepaskan diri dari semua persoalan atau gangguan yang selama ini dipikirkan. Persoalan keluarga, kekacauan pikiran, sangat mengganggu perolehan intuisi.
3. Gunakan waktu luang untuk benar-benar beristirahat setelah usaha keras dilakukan. Pekerjaan yang tidak membutuhkan usaha mental seperti mengerjakan hobi ( memancing, rekreasi ), berjalan-jalan, kerja fisik ringan sering membantu memperoleh intuisi.
4. Menciptakan rangsangan positif dengan melalui
( a ) diskusi, b ) membaca tulisan ilmiah ( hasil-hasil penelitian ), dan ( c )
membaca tulisan yang bertentangan dengan pandangan kita.

Secara substantif, masalah yang akan diangkat menjadi karya ilmiah dituntut memenuhi kriteria, antara lain :
1. Tepat waktu, yaitu masalah yang sedang hangat diperbincangkan saat ini.
2. Menjawab masalah praktis yang mendesak untuk dipecahkan.
3. Masalah yang diangkat berdampak luas dalam masyarakat.
4. Mempertajam konsep yang sudah ada.
5. Originalitas, yaitu masalahnya benar-benar baru.

Ditinjau dari tingkat urgensinya permasalahan dapat dikelompokkan menjadei tiga, yaitu:
1.Pseudo problem, yaitu masalah yang semu, artinya masalah tersebut masih pada taraf yang tidak begitu membahayakan bahkan jika tidak diatasi tidak begitu berdeampak negatif terhadap lingkungannya.
2. Actual problem, yaitu masalah yang dirasakan oleh kelompok tertentu dan jika tidak diatasi, kelompok tersebut merasa terganggu. Bentuk teknologi yang digunakan untuk mengatasi masalah yang dikategorikan actual problem tidak teknologi baru, tetapi orang lain di tempat berbeda mungkin sudah pernah mengetahui atau pernah melakukan pemecahannya.
3. Genuine problem, yaitu masalah yang benar-benar baru, artinya cara pemecahan masalah belum pernah dilakukan orang lain.
Dari ketiga kelompok tersebut sedapat mungkin dicari permasalahan yang genuine, jika tidak mampu mengatasi masalah yang sifatnya genuine problem, actual problem masih dapat di buat untuk karya ilmiah. Sedapat mungkin hindari masalah yang semu (problem).

Sumber-sumber yang bisa dijadikan acuan dalam mencari permasalahan antara lain:
1. Inventarisasi permasalahan di departemen-departemen yang biasa disebar ke
Bappeda/ Kanwil.
2. Permasalahan yang timbul melalui polemik surat kabar.
3. Permasalahan yang terlontar lewat jurnal-jurnal profesional.
4. Kristalisasi pengalaman pribadi di lapangan.
5. Saran-saran skripsi/ tesis yang dibuat orang lain.
6. Pengamatan
7. Kepustakaan yang relevan dgn studi kita
8. Mata kuliah yang kita programkan
9. Buku, dan abstrak
10. Seminar
11. Pakar, dan teman-teman

Ciri-ciri masalah yang baik dalam Penelitian
- Topik yg dipilih sangat menarik
- Pemecahan masalah mempunyai kontribusi dalam labangan pekerjaan atau bidang
tertentu
- Merupakan hal baru
- Mengundangan rancangan yang kompleks
- Dapat diselesaikan dlm waktu yg diinginkan
- Tidak bertentangan dengan moral

Rumusan masalah yang baik dalam Penelitian
- Didukung oleh latar belakang masalah dan pejelasan mengenai pentingnya masalah
diteliti
- Memuat variabel-variabel dan kaitan antar variabel yg mjd perhatian peneliti
- Memberikan penjelasan atau definisi setiap variabel (konseptual & operasional)

CONTOH:

1. Apakah ada pengaruh penggunaan kalkulator terhadap hasil belajar matematika siswa
SD?
2. Apakah ada hubungan positif antara kemampuan spatial dengan hasil belajar geometri
siswa SMP?
3. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diberi metode
PS dengan yang tidak?

Senin, 05 April 2010

Pra Penulisan Karya Ilmiah

-> Kerangka Penyusunan Karya ilmiah
Kerangka karya ilmiah terdiri dari:
1. Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Abstrak/Ringkasan
4. Kata Pengantar
5. Daftar Isi
6. Daftar Tabel
7. Daftar Gambar
8. Daftar Lampiran
9. Daftar Istilah dan atau Daftar Singkatan ( kalau ada )
10.BAB I Pendahuluan ( latar belakang, identifikasi masalah, maksud dan tujuan,
kegunaan penelitian, kerangka pemikiran)
11.BAB II Tinjauan Pustaka
12.BAB III Bahan dan Metode Penelitian (bentuk penelitian, subjek penelitian, ukuran

sampel, definisi operasional, variabel penelitian, prosedur penelitian, cara
pemeriksaan/pengukuran, analisis data, tempat dan waktu penelitian, jadwal
penelitian, alur penelitian)
13.BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
14.BAB V Kesimpulan dan Saran
15.Daftar Pustaka
16.Lampiran

-> Teknik Penyusunan Karya ilmiah

Dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap antara lain.
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Pengumpulan data.
3. Tahap Pengorganisasian.
4. Tahap Pemeriksaan/ penyunting konsep.
5. Tahap Penyajian
1. Tahap Persiapan.
Dalam tahap persiapan dilakukan:
a. Pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkan
i. Topik yang akan di pilih harus yang ada di sekitar penulis.
ii. Topik yang di pakai harus topik yang paling menarik dari topik yangada.
iii. Pembahasan harus terpusat pada segi lingkup sempit dan terbatas.
iv. Memilki data dan fakta yang obyektif dan mencukupi.
v. Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya meskipun sedikit.
vi. Harus memiliki sumber acuan atau bahan kepustakaan yang bisa
dijadikan referensi.

b. Pembatasan topik atau penentuan judul
i. Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah dilakukan.
ii. Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisn karya ilmiah atau
setelah selesai penulisan karya ilimiah tersebut.
iii. Penentuan judul karya ilmiah harus dapat menjawab dari pertanyaan yang
mengandung unsur 4W + 1H yakni what (apa), why (kenapa), who (siapa),
where (dimana) dan how (bagaimana).

c. Pembuatan kerangka karangan (outline)
i. Membimbing untuk memulai menyusun kerangka karangan.
ii. Membuat pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak menjadi tumpang tindih
dalam penulisannya.
iii. Pembuatanrencana daftar isi dari karya ilmiah.

2. Tahap penulisan data
a. Pencarian keterangan dari bhn bacaan atau referensi.
b. Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan
dijadikan tema dalam karya ilmiah.
c. Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti dan dijadikan tema
dari karya ilmiah.
d. Melakukan percobaan dilabolatorium atau pengujian data di lapangan.

3. Tahap Pengorganisasian dan pengkonsepan
a. Pengelompokan bahan untuk mengorganisasikan bagian mana yang akan
temasuk dalam karya ilmiah, data yang telah terkumpul diseleksi kembali dan
dikelompokan sesuai jenis, sifat dan bentuk data.
b. Pengkonsepan karya ilmiah dilakuakn sesuai dengan urutan dalam kerangka
karangan yang telah ditetapkan.

4. Tahap pemeriksaan atau penyuntingan konsep (editing), tahap ini bertujuan untuk :
a. Melengkapi data yang dirasa masih kurang.
b. Membuang dan mengedit data yang dirasa tidak relevan serta tidak cocok dengan
pokok bahasan karya ilmiah.
c. Mengedit setiap kata-kata dalam karya ilmiah untuk menghindari penyajian bahan-
bahan secara berulang-ulang atau terjadi tumpang tindih antara tulisan satu
dengan tulisan yang lain.
d. Mengedit setiap bahasa yang ada dalam karya ilmiah untuk menghindari
pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh dalam penyusunan dan pemilihan
kata,penyesuaian kalimat, penyesuaian paragraph, maupun penerapan kaidah ejaan
sesuai EYD.

5. Tahap Penyajian
a. Teknik penyajian karya ilmiah harus dengan memperhatikan :
i. Segi kerapian dan kebersihan.
ii. Tata letak (layout) unsure-unsur dalam format karya ilmiah, misal
pada halaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar
grafik, daftar gambar,daftar pustaka, dll.
iii. Memakai standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, missal standar
penulisan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka dan penggunaan bahasa
sesuai dengan EYD.

-> BAB III PENUTUP
Disemua uraian penutup yang dimuat dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang harus dicermati. Pertama , sebuah karya ilmiah sebagai mana dalam makalah ini adalah suatu pemikiran yang utuh. Karya tersebut merupakan sebuah gagasan lengkap, yang mungkin sangat rumit atau sederhana saja. Dalam menulis karya ilmiah, seorang penulis diharapkan mampu untuk mengkomunikasikan temuan atau gagasan ilmiahnya secara lengkap dan gambling agar mudah dipahami. Kedua, menulis karya ilmiah berbeda dengan karya imajinatif. Persiapan yang seksama dan pemikiran yang matang dan runtut perlu diperhatikan. Ketiga, dalam menyampaikan pemikirannya, penulis tidak mungkin mengabaikan perkembangan yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang terjadi dalam bidang keilmuannya sendiri. Keempat, sarana utama dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran adalah bahasa,. Bahasa sebuah sistem komunikasi memiliki aturan- aturan sendiri sekalipun sistem itu terus berkembang. Terakhir adalah masalah tanggung jawab, sekalipun kata ini tidak banyak muncul dalam buku ini, tulisan-tulisan yang ada mengajak pembaca untuk menyadari bahwa seorang penulis mempunyai berbagai tanggung jawab.
Dalam menulis kerangka tulisan ilmiah yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian dalam tulisan ilmiah, terutama dalam jurnal ilmiah antara lain, judul tulisan, nama dan alamat penulis, abstrak, pengantar, permasalahan penelitian, bahan dan cara penelitian, hasil, pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar putaka.

Sabtu, 27 Maret 2010

Metode Ilmiah

--> METODE
Definisi Metode dalam kamus besar bahasa Indonesia, Metode adalah cara yang teratur dan
terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb) atau cara kerja
yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang
ditentukan.

Menurut Peter R. Senn metode adalah suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang
mempunyai langkah-langkah sistematis. Dan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam
mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.

Jadi, Metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai dan mengetahui maksud atau
tujuan yang telah ditentukan yang dengannya tujuan tersebut dapat dicapai dengan mudah.

--> METODE ILMIAH
Menurut KBBI adalah metode atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh
pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis.

Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan
fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan
eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi
suatu teori ilmiah.

Menurut Taqiyuddin an-Nabhani, dalam at-Tafkir: Ia menyebut metode ilmiah sama dengan
metode berpikir ilmiah.

Menurut Dictionary of Behavioral Science, Metode ilmiah adalah Tekhnik-tekhnik dan
prosedur-prosedur pengamatan dan percobaan yang menyelidiki alam yang dipergunakan oleh
ilmuawan-ilmuwan untuk mengolah fakta-fakta, data, dan penafsirannya sesuai dengan
asas-asas dan aturan-aturan tertentu.

Menurut Arturo Rosenblueth, “Metode ilmiah adalah suatu prosedur dan ukuran yang dipakai
oleh ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus mereka”.

Menurut Penelitian, Metode ilmiah adalah suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur
tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian
cara dan langkah ini dalam dunia ke ilmuan disebut metode. Dan untuk menegaskan bidang ke
ilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).

Jadi, Metode Ilmiah adalah proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis
berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam
usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis
tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali,
hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

--> LANGKAH-LANGKAH METODE ILMIAH

James B. Conant memberikan rumusan metode ilmiah menjadi delapan langkah, yaitu :
a. Kenali bahwa terdapat suatu situasi yang sifatnya ”tak menentu” (unpredictable),
sehingga merupakan suatu situasi bertentangan atau kabur yang mengharuskan penyelidikan.

b. Nyatakan masalah itu dalam istilah spesifik

c. Rumuskan suatu hipotesis kerja

d. Rancang suatu metode penyelidikan yang terkendalikan dengan jalan pengamatan atau
dengan jalan percobaan ataupun kedua-duanya

e. Kumpulkan dan catat bahan pembuktian atau data ‘kasar’.

f. Alihkan data kasar ini menjadi suatu pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan.

g. Tibalah pada suatu penegasan yang tampak dapat dipertanggungjawabkan. Kalau penegasan
itu betul, ramalan-ramalan dapat dibuat darinya.

h. Satu padukan penegasan yang dapat dipertanggungjawabkan itu, kalau terbukti merupakan
pengetahuan baru dalam ilmu, dengan kumpulan pengetahuan yang telah mapan.

--> Kelemahan-kelemahan dari Metode Berpikir Ilmiah

Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya,
asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai
berikut:

a. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek
material yang dapat di indera.

b. Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi
sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya,
kemudian memulai pengamatan dan percobaan atas materi.

c. Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).


Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain. Dikatakan, bahwa “…Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara ontologi, ilmu membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang memisahkan antara ilmu dan agama…perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan berbedanya metode dalam
Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu…demikian juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk dalam memecahkan masalah tersebut. Humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya”.
Menurut Muhammad Abdurrahman dalam at-Tafkeer metode ilmiah adalah
“metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada ilmu yang termasuk dalam humaniora…..”,
hal ini dikarenakan bidang-bidang yang termasuk ke dalam humaniora tidak membahas perkara-perkara fisik yang dapat diukur dan diujicobakan. Meskipun demikian, beberapa aspek pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiaannya, misalnya saja aspek pengajaran bahasa sastra dan metematika. Dalam hal ini masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah berbagai aspek proses belajar-mengajar.

--> Unsur Metode Ilmiah
Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:

1. Karakterisasi (observasi dan pengukuran)
2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan
pengukuran)
3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

--> Contoh Metode Ilmiah
Setiap langkah diilustrasikan dengan contoh dari penemuan struktur yaitu :
1. Karakterisasi
2. Hipotesis
3. Prediksi
4. Eksperimen

Keterangannya :
1. Karakterisasi
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam
proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang
dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses
penentuan (definisi) dan observasi. Observasi yang dimaksud seringkali memerlukan
pengukuran dan perhitungan yang cermat.

Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti labora
torium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi
seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan
ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu
bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil
pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk
grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan
regresi.

2. Hopotesis
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi
tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau observasi
suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya
berupa probabilitas.

3. Eksperimen
Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis, melainkan meningkatkan
probabilitas kebenaran hipotesis tersebut. Hasil eksperimen secara mutlak bisa
menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi
dari hipotesis.

4. Evaluasi dan pengulangan
Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif, yaitu berulang. Pada langkah yang
manapun, seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena
pertimbangan tertentu. Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat
membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari

Minggu, 21 Maret 2010

Hakikat Karya Ilmiah

> Pengertian Karya Ilmiah

Karya ilmiah merupakan karya tulis yang berisi untuk memaparkan suatu pembahasan secara
ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti untuk
memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para
pembaca.

Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk
membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan.

Istilah karya ilmiah mengacu kepada karya tulis yang menyusun dan penyajiannya didasarkan
pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Di lihat dari panjang pendeknya atau kedalaman
uraiaan, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian. Dalam
penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian ilmiah dan cara
kerja ilmiah.
Menurut Finoza dalam Alamsyah (2008 : 98), Karangan dapat diklasifikasikan menurut bobot
isinya atas 3 jenis, yaitu

1. Karangan Ilmiah
2. Karangan Semi Ilmiah atau Ilmiah Populer
3. Karangan Non Ilmiah.

> Yang tergolong ke dalam Karangan Ilmiah adalah
1. Makalah
2. Laporan
3. Skripsi
4. Tesis

> Yang tergolong karangan semi ilmiah adalah
1. Artikel
2. Editorial
3. Opini
4. Feuture
5. Reportase

> Yang tergolong dalam karangan non ilmiah adalah
1. Aanekdot
2. Opini
3. Dongeng
4. Hikayat
5. Cerpen
6. Novel
7. Roman
8. Naskah drama.

Ketiga jenis karangan tersebut memiliki karektiristik yang berbeda.
Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode
dan penggunaan bahasa.
Sedangkan karangan non ilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada karangan baku.
Sedangkan karangan semi ilmiah berada diantara keduanya.

Sementara itu, menurut Yamilah dan Samsoerizal (1994 : 90) memaparkan bahwa ragam karya
ilmiah terdiri atas beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Menurut pengelompokan itu ,
dikenal ragam karya ilmiah yaitu
1. Makalah
2. Skripsi
3. Tesi
4. Disertasi.

> Ciri-Ciri Karya Ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang
dikomunikasikan melalui bahasa tulis yang formal dengan sistematis-methodis.

Karangan ilmiah bersifat sistematis dan tidak emosional. Dalam karya ilmiah disajikan
kebenaran fakta.

Ciri-ciri karya ilmiah menurut Alamsyah (2008 : 99) adalah
1) Merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif ).
Artinya, faktanya sesuai dengan yang diteliti

2) Bersifat methodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan
metode tertentu dengan langkah langkah yang teratur dan terkontrol secara tertip dan rapi

3) Tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah. Artinya, laras bahasa ilmiah harus baku dan
formal. Selain itu laras ilmiah harus lugas agar tidak ambigu (ganda).

> Macam-macam Karya Ilmiah
1. Artikel ilmiah
Adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat di jurnal atau buku kumpulan
artikel, ditulis dengan tatacara ilmiah, dan disesuai dengan konvensi ilmiah yang
berlaku.

Artikel dapat dipilah menjadi dua yaitu
a) Artikel hasil penelitian
b) Artikel nonpenelitian.

2. Makalah ilmiah
Adalah karya tulis yang memuat hasil pemikiran mengenai masalah, disusun secara
sistematis dan runtut, dan disertai analisis yang logis dan objektif.

Makalah dapat dibedakan menjadi dua yaitu
a) makalah teknis
b) makalah nonteknis

3. Laporan Penelitian
Adalah karya tulis yang berisi paparan proses dan hasil penelitian


> Sikap Ilmiah

Menurut pendapat Istarani (2009 : 4) Penulis atau peneliti harus memiliki tujuh sikap ilmiah
berdasarkan yaitu

a) sikap ingin tahu
b) sikap kritis
c) sikap terbuka
d) sikap objektif
e) sikap menghargai karya orang lain
f) sikap berani mempertahankan kebenaran
g) sikap menjangkau ke depan.

> Kesalahan-Kesalahan yang dapat ditemukan dalam karya ilmiah yaitu
a) Kesalahan Tulis
Biasanya para penulis kurang memperhatikan keenaran dalam karya tulis. untuk itu
disarankan para penulis agar mengatasi kesalahan tulis yaitu sebagaib berikut ini :
1. Membedakan antara bahasa “tulis” dan “lisan/obrolan”.
2. Menyadari bahwa karya tulis merupakan karya ilmiah, tentunya semuanya bersandar pada
kaidah-kaidah yang disepakati umum.
3. Menyadari dalam bahasa yang ditulis, misalnya Bahasa Inggris tentunya tidak sama
dengan Bahasa Indonesia dalam banyak hal.

Alinea Baru
Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa P&K, 1992) cara penulisan kalimat baru dan baris baru, adalah dengan
alinea baru. Baris baru tidak lazim untuk suatu kalimat yang bukan alinea baru.

Kata Depan vs Awalan
Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa P&K, 1992) cara penulisan kata depan tidak sama dengan awalan. Secara
umum penulisan kata depan terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali gabungan kata yang
sudah lazim maka dianggap sebagai satu kata.

Macam kata depan antara lain: di, ke, dan dari. Namun demikian sering kita jumpai
kesalahan tulis dalam proposal maupun laporan penelitian.

Contoh kesalahan dapat dilihat pada kata bergaris bawah yaitu berikut ini :
1. Diatas sudah disebutkan (kata bergaris bawah adalah contoh salah).
Seharusnya kata Diatas itu dipisah yaitu “Di atas”. Begitu pula untuk kata lain yang
mengikuti kata depan di yaitu: bawah, sini, sana, samping, belakang, dan lain-lain.
2. Analisis penelitian ini mengarah keparametrik. Hasilnya akan dibawa kebelakang.
Seharusnya untuk kesalahan tersebut adalah“ke parametrik dan ke belakang”. Begitu pula
untuk kata lain yang mengikuti kata depan ke yaitu: bawah, sini, sana, samping,
belakang, dan lain-lain.

Tanda Baca
Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa P&K, 1992) tanda baca yang diatur antara lain ada lima belas macam.
Kesalahan tersebut antara lain seperti berikut ini :
1. Titik (.).
Deteksi yang bisa disarankan adalah bahwa setiap kalimat diakhiri dengan titik (.).
2. Tanda titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:)
Secara umum ditulis melekat kata sebelumnya, dan terpisah dengan kata yang
mengikutinya.
b) Kesalahan Bahasa

* Bahasa Tulis dan Lisan
Contoh kesalahan tulis yang mencantumkan bahasa “lisan” dalam seperti kata bergaris
bawah berikut :
1. Sehingga penulis berkesimpulan bahwa…. Saran untuk kesalahan tersebut adalah“oleh
karena…., maka…” (= kata “sehingga” jangan di awal kalimat, dalam bahasa tulisan).

2. Dan… penulis sudah simpulkan. Saran untuk kesalahan tersebut adalah tidak di awal
kalimat, karena “dan” merupakan kata sambung.

* Kata serapan dan kata asing
Contoh kesalahan yang sering muncul dalam penulisan proposal maupun laporan penelitian
dapat dilihat pada contoh-contoh berikut ini.
Sistim juga terdiri dari beberapa aktifitas. Seharusnya kata sisitim itu diganti
dengan kata “Sistem” dan “aktivitas”.

* Kesalahan Isi
Contoh dari kesalahan tersebut antara seperti berikut ini.
1. Dalam proposal, peneliti menuliskan tinjauan pustaka terlalu panjang, dan berisi
kajian kurang relevan dengan tema penelitian. Biasanya alasan yang dikemukan oleh
pembuat kesalahan agar proposal (penelitian) kelihatan tebal.
2. Dalam laporan penelitian (biasanya bab 2), peneliti menuliskan referensi yang tidak
berhubungan dengan judul penelitian, bahkan mengaburkan judul.

Contoh kasus yaitu :
Penelitian tentang “volume perdagangan saham” dengan isi di bab 2 (landasan teori)
tentang “hipotesis pasar efisien”.
Kesalahan demikian, tercermin dari ketidak-sinkronan tema dengan referensi yang dimuat.

* Kesalahan analisis
Contoh untuk kesalahan analisis yaitu :
1. Kasus atau data non parametrik dianalisis dengan parametrik.
2. Mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain, dianalisis hanya dengan
analisis “korelasi”.

* Kesalahan Penterjemahan Hasil Analisis
Kesalahan dalam menginterpretasikan hasil analisis bisa disebabkan banyak hal, antara
lain:

a) pengalaman peneliti yang kurang
b) kesalahan alat analisis yang digunakan
c) kesalahan merumuskan hipotesis.

* Kesalahan kesimpulan
Kesalahan kesimpulan bisa disebabkan oleh kesalahan alat analisis maupun kesalahan
interpretasi hasil analisis.
Contoh kesalahan kesimpulan yang sering terlihat antara lain seperti di bawah ini.
Hipotesis penelitian diterima, yang berarti bahwa akuntan…. . Seharusnya itu adalah
“Penelitian berhasil (tidak berhasil) menolak hipotesis nol, dengan demikian hipotesis
alternatif diterima (ditolak) atas dasar sampel penelitian ini.
Yang terpenting adalah dihubungkan dengan masalah (hipotesis).

Kamis, 11 Maret 2010

Penalaran induktif

Penalaran induksi adalah proses penalaran pada suatu keputusan, prinsip, atau sikap yang
bersifat umum dan khusus, berdasarkan pengamatan atas hal-hal yang
khusus.

* Proses induksi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

1. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas jumlah gejala dengan
sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala
serupa.

Contoh :
Jika adaoksigen, manusia akan hidup.
Jika ada oksigen, hewan akan hidup.
Jika ada oksigen, tumbuhan akan hidup.
Jadi, jika ada oksigen mahkluk hidup akan hidup.

2. Analogi adalah suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu
gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial
yang bersamaan.

Contoh analogi :

Lina adalah lulusan Akademi Perawatan
Lina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Rina adalah lulusan Akademi Perawatan.
Oleh Sebab itu, Rina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

3. Hubungan Kausal : Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.

Macam-macam hubungan kausal :
1) Sebab- akibat.
Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.

2) Akibat – Sebab.
Doni terlambat ke kantor disebabkan ban mobil Doni bocor.

3) Akibat – Akibat.
Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di
rumah basah.

* Salar Nalar adalah gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau
cacat.

* Jenis-jenis salah nalar yaitu :

♦ Deduksi yang salah : Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau
tidak memenuhi persyaratan.

Contoh :

Semua gelas akan pecah bila dipukul dengan batu.

♦ Generalisasi terlalu luas
Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang
dengan besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.

Contoh :

Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.

♦ Pemilihan terbatas pada dua alternatif

Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan
jawaban yang ada.

Contoh :

Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.

♦ Penyebab Salah Nalar

Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya
pergeseran maksud.

Contoh:

Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

♦ Analogi yang Salah

Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan
anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.

Contoh:

Juni walaupun lulusan Akademi Perawat tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.

♦ Argumentasi Bidik Orang

Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang
diembannya.

Contoh:

Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas penyuluhannya
memiliki enam orang anak.

♦ Meniru-niru yang sudah ada

Salah nalar jenis ini berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan
kalau orang lain melakukan hal itu.

Contoh:

Dia bisa melakukan korupsi karena pejabat pemerintah melakukannya.

Selasa, 09 Maret 2010

Penalaran Deduktif

Pengertian Penalaran deduktif

Penalaran deduktif adalah sesuatu proses penalaran dari hal atau gejala yang umu menuju pada

gejala yang khusus.

Contoh :

Semua manusia akan mati ( premis mayor)

Ina adalah manusia ( premis minor)

Jadi, Ina akan mati (konklusi)

  • Pengertian Term

Term adalah sebuah kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek (S) atau

predikat (P) dalam kalimat.

  • Jenis-jenis Term yaitu

Term Mayor

Term Mayor adalah predikat dalam kesimpulan. Term Mayor disebut juga “Premis Mayor

(proposisi universal) dan diletakkan sebagai premis pertama.

Term Minor

Term Minor adalah subyek dalam kesimpulan. Term minor disebut “Premis Minor” (proposisi

partikular) dan diletakkan sebagai premis kedua.

♦ Term Penengah

Term Penengah adalah predikat pada premis minor.

  • Penalaran deduktif di bagi menjadi 2 yaitu :

♦ Silogisme

♦ Entimem.

♦ Silogisme

  • Silogisme adalah penalaran yang formal.

Dalam kehidupan sehari-hari kita jarang menemukan penalaran bentuk ini.

Contoh :

Rina tidak menyukai kopi karena pahit sekali

Kalimat diatas dapat kita kembalikan pada bentuk formal, yaitu:

1. Rina tidak menyukai minuman kopi

2. Kopi minuman berasa pahit

3. Karena itu, Rina tidak menyukai kopi.

♦ Entimem

Pada dasarnya entimem adalah silogisme. Hanya saja, didalam entimem salah satu premisnya

dihilangkan/ tidak diucapkan karena telah sama-sama diketahui.

Contoh :

Rani terpilih sebagai pegawai teladan, oleh karena itu Rani berhak mendapatkan jabatan

manager.