Contoh Penerapan Telematika
Aplikasi internet pada lingkungan pemerintah yang dikenal dengan e-government. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah berlomba-lomba membuat aplikasi e-government. Banyak hal yang menyebabkan kegagalan e-government oleh beberapa faktor, yaitu: ketidak pastian sumber daya manusia, sarana dan prasarana teknologi informasi, serta kurangnya perhatian dari pihak-pihak yang terlibat langsung.
e-government adalah penggunaan teknologi informasi dan telekomunikasi untuk administrasi pemerintahan yang efisien dan efektif, serta memberikan pelayanan yang transparan dan memuaskan kepada masyarakat. E-government ada empat tingkatan. Tingkat pertama adalah pemerintah mempublikasikan informasi melalui website. Tingkat keduaa dalah interaksi antara masyarakat dan kantor pemerintahan melaui e-mail. Tingkat ketiga adalah masyarakat pengguna dapat melakukan transaksi dengan kantor pemerintahan secara timbal balik. Level terakhir adalah integrasi di seluruh kantor pemerintahan, di mana masyarakat dapat melakukan transaksi dengan seluruh kantor pemerintahan yang telah mempunyai pemakaian data base bersama. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bantul, Rabu (29/9) menyelenggarakan Workshop Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komputer dengan tema “Pengembangan e-Government di Kabupaten Bantul”. Peserta workshop terdiri dari unsur legislatif DPRD Kabupaten Bantul dan eksekutif Pemerintah Kabupaten Bantul dilaksanakan pada 29-30 September 2010.
Bupati Bantul dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Drs. Gendut Sudarto Kd, BSc., MMa. menyampaikan perubahan dunia saat ini yang mengalami transformasi menuju era informasi, membuka peluang untuk dapat melakukan pengaksesan, pengelolaan dan pendayagunaan informasi secara luas, cepat dan akurat. Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan kecenderungan perkembangan dunia global tersebut akan membawa masyarakat menjadi terisolasi dari dunia global hanya karena tidak mampu memanfaatkan teknologi.
Direktur Aplikasi Telematika Kemenkominfo RI Ir. Hery Abdul Aziz, M.Eng. dalam sambutannya menyampaikan visi Direktorat Aplikasi Telematika Kemenkominfo yaitu integrasi e-Government, dimana data antar instansi pemerintah dapat terintegrasi. Untuk mencapai visi tersebut tidaklah mudah karena masalah karakter menjadi penting. “Kemkominfo telah mempersiapkan beberapa aplikasi yang akan diberikan kepada pemerintah daerah untuk pengembangan e-Gov didaerahnya masing-masing” tambah Hery.
Acara seminar pada hari pertama disampaikan materi antara lain Pemanfaatan IT di Pemerintahan disampaikan oleh Dr. Ir. Richard Mengko staf ahli bidang informasi RISTEK dan praktisi ITB. Dalam materinya disampaikan bahwa kegiatan dunia fisik dan dunia maya mempunyai kesamaan dimana masing-masing terdapat aksesbilitas, konektivitas, dan interoperabilitas.
Materi kedua disampaikan oleh praktisi Universitas Indonesia Yudho Giri Sucahyo, Ph.D, CISA, CISM, CEP-PM, CSRS dengan judul Pengembangan e-Government di Kabupaten Bantul. Dalam materi yang disampaikan, pengembangan e-Government berdasarkan Keputusan Kementerian Kominfo No. 57 Tahun 2003 terdiri dari empat tahap yaitu tahap persiapan, tahap pematangan, tahap pemantapan dan tahap pemanfaatan. Berdasarkan pemeringkatan PeGI Jateng-DIY 2010, Kabupaten Bantul berada di peringkat 14 atau pada peringkat ke-3 untuk wilayah DIY. “Tekad untuk tercapainya e-Government, perlu dituangkan secaa jelas di misi, kebijakan, program strategis, dan sasaran yang menjadi satu kesatuan dengan Renstra Pemda, kata Yudho dalam kesimpulannya.
Dalam materi ketiga yang disampaikan Ir. Heru Supriyatno dari Direktorat Aplikasi Telematika Kementerian Kominfo RI menyampaikan bahwa Kementerian Kominfo telah membangun beberapa aplikasi e-Government yang akan diberikan kepada pemerintah daerah diantaranya adalah aplikasi pendidikan, aplikasi pariwisata, aplikasi peternakan, aplikasi perkebunan, aplikasi pertanian, aplikasi informasi hukum, dan aplikasi SMS Centre.
Kedelapan aplikasi tersebut memiliki sistem kerja yang sama. Delapan aplikasi ini adalah suatu aplikasi yang didesain untuk mengelola informasi yang disesuaikan dengan nama aplikasinya sendiri, dimana sumber datanya diperoleh dari dari instansi pemerintah atau dari data dilapangan. Pengguna bisa mengarsipkan data yang ada dan data tersebut bisa disimpan dalam bentuk elektronik sehingga dapat dilakukan pencarian dengan kriteria tertentu.
Karena itu dibutuhkan kemauan petugas untuk mengisikan data kedalam sistem database ini. Karena tanpa ada kemauan dari para petugas, maka sistem ini tidak akan berfungsi. Data yang ada dalam sistem ini, nantinya akan bisa dimanfaatkan oleh para pimpinan dalam instansi dalam mengambil kebijakan, karena datanya juga ditampilkan dalam bentuk grafik. Selain itu sudah dibangun pula aplikasi kepegawaian, aplikasi pendapatan daerah, aplikasi arsip, aplikasi kantaya, aplikasi e-office dan aplikasi e-library.
sumber :
http://kpde.bantulkab.go.id/?p=822#more-822
Selasa, 19 Oktober 2010
TELEMATIKA
Saat ini, computer dan piranti pendukungnya telah masuk ke dalam setiap aspek kehidupan manusia. Sejak ditemukkannya komputer generasi pertama pada tahun 1941, dunia telah memulai era komputasi. Komputer pun telah banyak melahirkan banyak bidang baru, salah satu diantara bidang itu adalah Telematika.
A. DEFINISI TELEMATIKA
a. Telematika berasal dari bahasa perancis “Telematique” yang merujuk pada
bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi
http://law.ui.ac.ic/lama/telematika/index.htm). Teknologi Informasi merujuk pada
sarana prasarana, sistem dan metode untuk perolehan, pengiriman, penerimaan,
pengolahan, penafsiran, penyimpanan, pengorganisasian, dan penggunaan data yang
bermakna (Miarso, 2007).
b. Pada praktisi menyatakan bahwa “Telematics“ adalah singkatan dari
“Telecommunication” and “informatics” sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing
and Communication. Istilah Telematics juga dikenal sebagai “the new hybrid
technology” yang lahir karena perkembangan teknologi digital. Perkembangan ini
memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin
terpadu ( konvergensi ). Semula media masih belum menjadi bagian integral dari isu
konvergensi teknologi informasi komunikasi pada saat itu.
c. Lebih jauh lagi istilah Telematika kemudian merujuk pada perkembangan konvergensi
antara telekomunikasi, media dan informatika yang semula masing-masing berkembang
secara terpisah.
d. Menurut Yusuf Hadi Miarso ( 2007 ) telematika merupakan sinergi teknologi
telekomunikasi dan informatika untuk keperluan pemrosesan data dengan sistem binary
( digital ).
e. Menurut instruksi presiden RI no.6 tahun 2001 tentang kerangka kebijakan
perkembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia didapat pengertian
telematika sebagai berikut : “……. Telekomunikasi, media dan informatika atau
disingkat sebagai teknologi telematika…”.
Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa Telematika merupakan konvergensi antara teknologi Telekomunikasi, Media dan Informatika yang digunakan untuk keperluan
pemrosesan data dengan sistem binary/digital.
Selaras dengan pengertian telematika sebagai sarana komuikasi jarak jauh, maka fungsi dari telematika antara lain :
1. Penyampaian informasi. Telematika digunakan sebagai penyampai informasi agar
orang yang melakukan Komunikasi menjadi lebih berpengetahuan dari sebelumnya.
Bertambahnya pengetahuan manusia akan meningkatan keterampilan hidup, menambah
kecerdasan, meningkatkan kesadaran dan wawasan.
2. Sarana Kontak sosial hidup bermasyarakat. Interaksi sosial menimbulkan kebersamaan,
keakraban, dan kesatuan yang akan melahirkan kerjasama. Telematika menjadi
penghubung diantara peserta kerjasama tersebut, walaupun mereka tersebar
dimana-mana. Telematika menjembatani proses interaksi sosial dan kerjasama sehingga
menghasilkan jasa yang memiliki nilai tambah dibanding hasil perseorangan.
B. Perkembangan Telematika Di Indonesia
1. Perkembangan teknologi tahun 1995-1996 itu berbeda sekali dengan di tahun 1990.
Ini terutama terjadi akibat konvergensi teknologi, sebagai fungsi dari berbagai
jenis jasa berubah dan timbul jasa-jasa baru yang perlu diakomodasikan. Konvergensi
teknologi bahkan memungkinkan teknologi dipadu dengan broadcasting, sehingga
timbullah telematika, teleinformatika, teknologi informasi dan lain-lain yang
menuntut kebijakan dan peraturan yang baru.
2. Perkembangan teknologi informasi dan broadcasting itu ternyata tidak hanya
berpengaruh pada masalah politik, dalam artian berita, tetapi juga iklan yang
sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Lebih jauh lagi dengan berkembangannya
telebanking, telekumunikasi sebelumnya dilihat hanya sebagai public utility, kini
berubah menjadi bisnis opportunity.
3. Globalisasi ekonomi menciptakan suasana kompetisi yang semakin ketat. Ini
menuntut penyelenggaraan telekomunikasi dengan kualitas layanan yang semakin ketat.
Tim Koordinasi Telematika Nasional secara paripurna merumuskan pengembangan telematika yang mencakup tiga kelompok utama, yaitu infastruktur, aplikasi, dan sumber daya.
1. Infrastruktur
Menurut Jonathan L.Parapak (Presiden komisaris PT.Indosat) dalam
http://www.bogor.net, perkembangan infrastruktur ini dipengaruhi oleh banyak faktor,
antara lain kebijakan nasional sector telekomunikasi, regulasi sector, kondisi
ekonomi makro, kemampuan para pelaku nasional. Salah satu aspek yang penting adalah
pemanfaatan secara optimal infrastruktur yang ada. Tampaknya perlu dikembangkan
kebijaksanaan baik pada tingkat pemerintah maupun pada tingkat penyelenggaraan agar
investasi yang telah dilakukan dapat termanfaatkan dengan berdaya guna dan berhasil
guna bagi berbagai komponen masyarakat, baik pendidikan, layanan kesehatan,
pemerintahan maupun kegiatan bisnis.
2. Aplikasi Telematika
Aplikasi telematika Indonesia terfokus pada pemberdayaan aparatur negara,
pemerkayaan hidup masyarakat (telemedik, telekarya, pendidikan), penciptaan daya
saing bisnis (perbankan,pos,pariwisata,manfaktur), pembangunan informasi dasar dan
aplikasi telematika perlu dilihat dari tatanan kebijakan, regulasi, dan
penyelenggaraan yang di manfaatkan masyarakat.
3. Sumber Daya Telematika
Dalam bidang sumber daya, diarahkan pada pengembangan SDM, industri dalam
negeri, hukum dan perdagangan, serta kultur informasi. Secara umum dirasakan
bahwa SDM di dalam negeri belum memenuhi harapan untuk berperan dalam
pengembangan teknologi yang berubah begitu cepat.
Hal ini pada gilirannya akan membatasi peranan pemerintah, khususnya dalam hal pengadaan dan pengelolaan kandungan informasi. Control informasi dari pemerintah justru dipandang sebagai faktor penghambat bagi upaya penyejahteraan masyarakat melalui jejaring telekomunikasi.
C. Tren Telematika ke Depan
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga tidak akan kalah dengan perkembangan TIK saat ini. Perangkat komputasi berskala terabyte, penggunaan multicore processor, penggunaan memory dengan multi slot serta peningkatan kapasitas harddisk multi terabyte akan banyak bermunculan dengan harga yang masuk akal. Komputasi berskala terabyte ini juga didukung dengan akses wireless dan wireline dengan akses bandwidth yang mencapai terabyte juga. Hal ini berakibat menumbuhkan faktor baru dari perkembangan teknologi. Antarmuka pun sudah semakin bersahabat, lihat saja software Microsoft, desktop UBuntu, GoogleApps, YahooApps Live semua berlomba menampilkan antarmuka yang terbaik dan lebih bersahabat dengan kecepatan akses yang semakin tinggi. Hal ini ditunjang oleh search engine yang semakin cepat mengumpulkan informasi yang dibutuhkan oleh penggunannya.
Pada akhirnya, era robotik akan segera muncul. Segenap mesin dengan kemampuan adaptif dan kemampuan belajar yang mandiri sudah banyak dibuat dalam skala industri kecil dan menengah, termasuk di tanah air. Jadi, dengan adanya teknologi manusia akan terus berkembang sehingga akan ada harapan-harapan tentang masa depan yang lebih baik.
D. Pemanfaatan Telematika di Bidang Pendidikan
Menurut Miarso (2004) terdapat sejumlah pilihan alternatif pemanfaatan di bidang pendidikan, yaitu :
1. Perpustakaan Elektronik
Perpustakaan yang biasanya arsip-arsip buku dengan di Bantu dengan teknologi
informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang
pasif menjadi agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Homepage dari The
Library of Congress merupakan salah satu perpustakaan yang terbesar di dunia.
Saat ini sebagian informasi yang ada di perpustakaan itu dapat di akses melalui
internet.
2. Surat Elektronik (email)
Dengan aplikasi sederhana seperti email maka seorang dosen, pengelola, orang tua
dan mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan. Dalam kegiatan di luar kampus
mahasiswa yang menghadapi kesulitan dapat bertanya lewat email.
3. Ensiklopedia
Sebagian perusahan yang menjajakan ensiklopedia saat ini telah mulai
bereksperimen menggunakan CD ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga
diharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar
saja, tapi juga video, audio, tulisan dan gambar, dan bahkan gerakan. Dan data
informasi yang terkandung dalam ensklopedia juga telah mulai tersedia di internet.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka data dan informasi yang
terkandung dalam ensiklopedi elektronik dapat diperbaharui.
4. Sistem Distribusi Bahan Secara Elektronis ( digital )
Dengan adanya sistem ini maka keterlambatan serta kekurangan bahan belajar bagi
warga belajar yang tinggal di daerah terpencil dapat teratasi. Bagi para guru SD
yang mengikuti penyetaraan D2, sarana untuk mengakses program ini tdk menjadi
masalah karena mereka dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki kantor pos yang
menyediakan jasa internet.
5. Tele-edukasi dan Latihan Jarak Jauh dalam Cyber System
Pendidikan dan pelatihan jarak jauh diperlukan untuk memudahkan akses serta
pertukaran data, pengalaman dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan
keterampilan professional dari SDM di Indonesia. Pada gilirannya jaringan ini
diharapkan dapat menjangkau serta dapat memobilisasikan potensi masyarakat
yang lain, termasuk dalam usaha, dalam rangka pembangunan serta kelangsungan
kehidupan ekonomi di Indonesia, baik yang bersifat pendidikan formal maupun
nonformal dalam suatu “cyber system”.
6. Pengelolaan Sistem Informasi
Ilmu pengetahuan tersimpan dalam berbagai bentuk dokumen yang sebagian besar
tercetak dalam bentuk buku, makalah atau laporan informasi semacam ini kecuali
sukar untuk diakses, juga memerlukan tempat penyimpanan yang luas. Beberapa
informasi telah disimpan dalam bentuk disket atau CD ROM, namun perlu
dikembangkan lebih lanjut sistem agar informasi itu mudah dikomunikasikan.
Mirip halnya dengan perpustakaan elektronik, informasi ini sifatnya lebih dinamik
(karena memuat hal-hal yang mutakhir) dapat dikelola dalam suatu sistem.
7. Video Teleconference
Keberadaan teknologi ini memungkinkan siswa atau mahasiswa dari seluruh dunia
untuk dapat berkenalan, saling mengenal bangsa di dunia. Teknologi ini dapat
digunakan sebagai sarana diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain
peran pada kegiatan pembelajaran yang berfungsi menumbuhkan kepercayaan diri
dan kerjasama yang bersifat sosial.
Banyak faktor yang mempengaruhi dilaksanakan atau tidaknya potensi teknologi telematika. Faktor utama, menurut Miarso (2004) adalah adanya komitmen politik dari para pengambil kebijakan dan ketersediaan para tenaga terampil.
E. Dampak Penggunaan Telematika
Berbagai macam bentuk yang menjadi dampak penggunaan telematika merebak luas
pada masyarakat. Dampak ini akan memunculkan dan merubah pola kehidupan,
bekerja, berusaha bahkan merubah falsafah pada bidang-bidang tertentu. Dampak
yang pasti adalah akan terjadinya perubahan minat bekerja yang lebih efisien dalam
arti benefit to cost ratio, efektif dalam arti kualitas produk, jasa, dan pemerataan
distribusi produk jasa kepada masyarakat. Dampak yang akan muncul penggunaan
telematika baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu :
1. Penghematan transportasi dan bahan bakar.
2. Menghindarkan jam-jam yang tidak produktif menjadi lebih produktif.
3. Mengembangkan konsep kegiatan tersebar secara merata ke seluruh daerah.
4. Menyuguhkan banyak pilihan sarana telekomunikasi.
dikutip dari :
• http://ariefbb.wordpress.com/2008/02/05/perkembangan-telematika-%E2%80%A6-just-my-another-unpopular-blogtitle/a
• http://www.total.or.id/info.php?kk=Telematika
A. DEFINISI TELEMATIKA
a. Telematika berasal dari bahasa perancis “Telematique” yang merujuk pada
bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi
http://law.ui.ac.ic/lama/telematika/index.htm). Teknologi Informasi merujuk pada
sarana prasarana, sistem dan metode untuk perolehan, pengiriman, penerimaan,
pengolahan, penafsiran, penyimpanan, pengorganisasian, dan penggunaan data yang
bermakna (Miarso, 2007).
b. Pada praktisi menyatakan bahwa “Telematics“ adalah singkatan dari
“Telecommunication” and “informatics” sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing
and Communication. Istilah Telematics juga dikenal sebagai “the new hybrid
technology” yang lahir karena perkembangan teknologi digital. Perkembangan ini
memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin
terpadu ( konvergensi ). Semula media masih belum menjadi bagian integral dari isu
konvergensi teknologi informasi komunikasi pada saat itu.
c. Lebih jauh lagi istilah Telematika kemudian merujuk pada perkembangan konvergensi
antara telekomunikasi, media dan informatika yang semula masing-masing berkembang
secara terpisah.
d. Menurut Yusuf Hadi Miarso ( 2007 ) telematika merupakan sinergi teknologi
telekomunikasi dan informatika untuk keperluan pemrosesan data dengan sistem binary
( digital ).
e. Menurut instruksi presiden RI no.6 tahun 2001 tentang kerangka kebijakan
perkembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia didapat pengertian
telematika sebagai berikut : “……. Telekomunikasi, media dan informatika atau
disingkat sebagai teknologi telematika…”.
Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa Telematika merupakan konvergensi antara teknologi Telekomunikasi, Media dan Informatika yang digunakan untuk keperluan
pemrosesan data dengan sistem binary/digital.
Selaras dengan pengertian telematika sebagai sarana komuikasi jarak jauh, maka fungsi dari telematika antara lain :
1. Penyampaian informasi. Telematika digunakan sebagai penyampai informasi agar
orang yang melakukan Komunikasi menjadi lebih berpengetahuan dari sebelumnya.
Bertambahnya pengetahuan manusia akan meningkatan keterampilan hidup, menambah
kecerdasan, meningkatkan kesadaran dan wawasan.
2. Sarana Kontak sosial hidup bermasyarakat. Interaksi sosial menimbulkan kebersamaan,
keakraban, dan kesatuan yang akan melahirkan kerjasama. Telematika menjadi
penghubung diantara peserta kerjasama tersebut, walaupun mereka tersebar
dimana-mana. Telematika menjembatani proses interaksi sosial dan kerjasama sehingga
menghasilkan jasa yang memiliki nilai tambah dibanding hasil perseorangan.
B. Perkembangan Telematika Di Indonesia
1. Perkembangan teknologi tahun 1995-1996 itu berbeda sekali dengan di tahun 1990.
Ini terutama terjadi akibat konvergensi teknologi, sebagai fungsi dari berbagai
jenis jasa berubah dan timbul jasa-jasa baru yang perlu diakomodasikan. Konvergensi
teknologi bahkan memungkinkan teknologi dipadu dengan broadcasting, sehingga
timbullah telematika, teleinformatika, teknologi informasi dan lain-lain yang
menuntut kebijakan dan peraturan yang baru.
2. Perkembangan teknologi informasi dan broadcasting itu ternyata tidak hanya
berpengaruh pada masalah politik, dalam artian berita, tetapi juga iklan yang
sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Lebih jauh lagi dengan berkembangannya
telebanking, telekumunikasi sebelumnya dilihat hanya sebagai public utility, kini
berubah menjadi bisnis opportunity.
3. Globalisasi ekonomi menciptakan suasana kompetisi yang semakin ketat. Ini
menuntut penyelenggaraan telekomunikasi dengan kualitas layanan yang semakin ketat.
Tim Koordinasi Telematika Nasional secara paripurna merumuskan pengembangan telematika yang mencakup tiga kelompok utama, yaitu infastruktur, aplikasi, dan sumber daya.
1. Infrastruktur
Menurut Jonathan L.Parapak (Presiden komisaris PT.Indosat) dalam
http://www.bogor.net, perkembangan infrastruktur ini dipengaruhi oleh banyak faktor,
antara lain kebijakan nasional sector telekomunikasi, regulasi sector, kondisi
ekonomi makro, kemampuan para pelaku nasional. Salah satu aspek yang penting adalah
pemanfaatan secara optimal infrastruktur yang ada. Tampaknya perlu dikembangkan
kebijaksanaan baik pada tingkat pemerintah maupun pada tingkat penyelenggaraan agar
investasi yang telah dilakukan dapat termanfaatkan dengan berdaya guna dan berhasil
guna bagi berbagai komponen masyarakat, baik pendidikan, layanan kesehatan,
pemerintahan maupun kegiatan bisnis.
2. Aplikasi Telematika
Aplikasi telematika Indonesia terfokus pada pemberdayaan aparatur negara,
pemerkayaan hidup masyarakat (telemedik, telekarya, pendidikan), penciptaan daya
saing bisnis (perbankan,pos,pariwisata,manfaktur), pembangunan informasi dasar dan
aplikasi telematika perlu dilihat dari tatanan kebijakan, regulasi, dan
penyelenggaraan yang di manfaatkan masyarakat.
3. Sumber Daya Telematika
Dalam bidang sumber daya, diarahkan pada pengembangan SDM, industri dalam
negeri, hukum dan perdagangan, serta kultur informasi. Secara umum dirasakan
bahwa SDM di dalam negeri belum memenuhi harapan untuk berperan dalam
pengembangan teknologi yang berubah begitu cepat.
Hal ini pada gilirannya akan membatasi peranan pemerintah, khususnya dalam hal pengadaan dan pengelolaan kandungan informasi. Control informasi dari pemerintah justru dipandang sebagai faktor penghambat bagi upaya penyejahteraan masyarakat melalui jejaring telekomunikasi.
C. Tren Telematika ke Depan
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga tidak akan kalah dengan perkembangan TIK saat ini. Perangkat komputasi berskala terabyte, penggunaan multicore processor, penggunaan memory dengan multi slot serta peningkatan kapasitas harddisk multi terabyte akan banyak bermunculan dengan harga yang masuk akal. Komputasi berskala terabyte ini juga didukung dengan akses wireless dan wireline dengan akses bandwidth yang mencapai terabyte juga. Hal ini berakibat menumbuhkan faktor baru dari perkembangan teknologi. Antarmuka pun sudah semakin bersahabat, lihat saja software Microsoft, desktop UBuntu, GoogleApps, YahooApps Live semua berlomba menampilkan antarmuka yang terbaik dan lebih bersahabat dengan kecepatan akses yang semakin tinggi. Hal ini ditunjang oleh search engine yang semakin cepat mengumpulkan informasi yang dibutuhkan oleh penggunannya.
Pada akhirnya, era robotik akan segera muncul. Segenap mesin dengan kemampuan adaptif dan kemampuan belajar yang mandiri sudah banyak dibuat dalam skala industri kecil dan menengah, termasuk di tanah air. Jadi, dengan adanya teknologi manusia akan terus berkembang sehingga akan ada harapan-harapan tentang masa depan yang lebih baik.
D. Pemanfaatan Telematika di Bidang Pendidikan
Menurut Miarso (2004) terdapat sejumlah pilihan alternatif pemanfaatan di bidang pendidikan, yaitu :
1. Perpustakaan Elektronik
Perpustakaan yang biasanya arsip-arsip buku dengan di Bantu dengan teknologi
informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang
pasif menjadi agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Homepage dari The
Library of Congress merupakan salah satu perpustakaan yang terbesar di dunia.
Saat ini sebagian informasi yang ada di perpustakaan itu dapat di akses melalui
internet.
2. Surat Elektronik (email)
Dengan aplikasi sederhana seperti email maka seorang dosen, pengelola, orang tua
dan mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan. Dalam kegiatan di luar kampus
mahasiswa yang menghadapi kesulitan dapat bertanya lewat email.
3. Ensiklopedia
Sebagian perusahan yang menjajakan ensiklopedia saat ini telah mulai
bereksperimen menggunakan CD ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga
diharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar
saja, tapi juga video, audio, tulisan dan gambar, dan bahkan gerakan. Dan data
informasi yang terkandung dalam ensklopedia juga telah mulai tersedia di internet.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka data dan informasi yang
terkandung dalam ensiklopedi elektronik dapat diperbaharui.
4. Sistem Distribusi Bahan Secara Elektronis ( digital )
Dengan adanya sistem ini maka keterlambatan serta kekurangan bahan belajar bagi
warga belajar yang tinggal di daerah terpencil dapat teratasi. Bagi para guru SD
yang mengikuti penyetaraan D2, sarana untuk mengakses program ini tdk menjadi
masalah karena mereka dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki kantor pos yang
menyediakan jasa internet.
5. Tele-edukasi dan Latihan Jarak Jauh dalam Cyber System
Pendidikan dan pelatihan jarak jauh diperlukan untuk memudahkan akses serta
pertukaran data, pengalaman dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan
keterampilan professional dari SDM di Indonesia. Pada gilirannya jaringan ini
diharapkan dapat menjangkau serta dapat memobilisasikan potensi masyarakat
yang lain, termasuk dalam usaha, dalam rangka pembangunan serta kelangsungan
kehidupan ekonomi di Indonesia, baik yang bersifat pendidikan formal maupun
nonformal dalam suatu “cyber system”.
6. Pengelolaan Sistem Informasi
Ilmu pengetahuan tersimpan dalam berbagai bentuk dokumen yang sebagian besar
tercetak dalam bentuk buku, makalah atau laporan informasi semacam ini kecuali
sukar untuk diakses, juga memerlukan tempat penyimpanan yang luas. Beberapa
informasi telah disimpan dalam bentuk disket atau CD ROM, namun perlu
dikembangkan lebih lanjut sistem agar informasi itu mudah dikomunikasikan.
Mirip halnya dengan perpustakaan elektronik, informasi ini sifatnya lebih dinamik
(karena memuat hal-hal yang mutakhir) dapat dikelola dalam suatu sistem.
7. Video Teleconference
Keberadaan teknologi ini memungkinkan siswa atau mahasiswa dari seluruh dunia
untuk dapat berkenalan, saling mengenal bangsa di dunia. Teknologi ini dapat
digunakan sebagai sarana diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain
peran pada kegiatan pembelajaran yang berfungsi menumbuhkan kepercayaan diri
dan kerjasama yang bersifat sosial.
Banyak faktor yang mempengaruhi dilaksanakan atau tidaknya potensi teknologi telematika. Faktor utama, menurut Miarso (2004) adalah adanya komitmen politik dari para pengambil kebijakan dan ketersediaan para tenaga terampil.
E. Dampak Penggunaan Telematika
Berbagai macam bentuk yang menjadi dampak penggunaan telematika merebak luas
pada masyarakat. Dampak ini akan memunculkan dan merubah pola kehidupan,
bekerja, berusaha bahkan merubah falsafah pada bidang-bidang tertentu. Dampak
yang pasti adalah akan terjadinya perubahan minat bekerja yang lebih efisien dalam
arti benefit to cost ratio, efektif dalam arti kualitas produk, jasa, dan pemerataan
distribusi produk jasa kepada masyarakat. Dampak yang akan muncul penggunaan
telematika baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu :
1. Penghematan transportasi dan bahan bakar.
2. Menghindarkan jam-jam yang tidak produktif menjadi lebih produktif.
3. Mengembangkan konsep kegiatan tersebar secara merata ke seluruh daerah.
4. Menyuguhkan banyak pilihan sarana telekomunikasi.
dikutip dari :
• http://ariefbb.wordpress.com/2008/02/05/perkembangan-telematika-%E2%80%A6-just-my-another-unpopular-blogtitle/a
• http://www.total.or.id/info.php?kk=Telematika
Sabtu, 05 Juni 2010
kutipan
I. KUTIPAN
1. Pengertian
Kutipan adalah pinjaman pendapat dari seseorang, baik berupa tulisan dalam buku,
majalah, surat kabar, atau bentuk tulisan lainnya, maupun dalam bentuk lisan.
2. Prinsip mengutip
a. Karena kutipan itu pada hakekatnya adalah pinjamna pendapat seseorang, maka
pengutip jangan mengadakan perubahan, baik kata-katanya maupun tekniknya.
Bila penulis terpaksa mengadakan perbaikan, misalnya dianggap ada kesalahan,
penulis harus memberi keterangan.
Contoh :
‘Tugas bank antara lain adalah memberi pinjam uang.’
Pengutip tahu bahwa dalam kalimat itu ada kata yang salah, namun pengutip
tidak boleh memperbaikinya.
Cara memperbaikinya :
1) ‘Tugas bank antara lain adalah memberi pinjam [seharusnya, pinjam,
penulis] uang.’
2) ‘Tugas bank antara lain adalah memberi pinjam [Sic!] uang.’
[Sic!] artinya dikutip sesuai dengan aslinya.
Cara 2) ini lebih umum.
b. Menghilangkan bagian kutipan
Dalam kutipan diperkenankan menghilangkan bagian-bagian kutipan dengan
syarat bahwa penghilang bagian itu tidak menyebabkan perubahan makna.
Caranya :
1) Menghilanhkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi
2) Menghilangkan bagian kutipan yang lebih dari satu alinea
Bagian yang dihilangkan diganti dengan titik berspasi sepanjang garis (dari
margin kiri sampai ke margin kanan)
3. Jenis-jenis kutipan
1. Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara lengkap
kata demi kata, kalimat demi kalimat dari sumber teks asli.
2. Kutipan tidak langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil inti
sarinya saja.
3. Kutipan pada catatan kaki
4. Kutipan atas ucapan lisan
5. Kutipan dalam kutipan
6. Kutipan langsung pada materi
4. Cara Mengutip
a. Kutipan langsung
♦ yang tidak lebih dari empat baris :
a) Kutipan diintegrasikan dengan teks
b) Jarak antar baris kutipan dua spasi
c) Kutipan diapit dengan tanda kutip
d) Sesudah kutipan selesai, langsung dibelakang yang dikutip dalam
tanda kurung ditulis sumber dari mana kutipan itu diambil, dengan
menulis nama singkat atau nama keluarga pengarang, tahun terbit, dan
nomor halaman tempat kutipan itu diambil.
♦ yang lebih dari empat baris :
a) Kutipan dipisahkan dari teks sejarah tiga spasi
b) Jarak anatr baris kutipan satu spasi
c) Kutipan dimasukkan 5-7 ketukan, sesuai dengan alinea teks pengarang
atau pengutip. Bial kutipan dimulai dengan alinea baru, maka baris
pertama kutipan dimasukkan lagi 5-7 ketukan
d) Kutipan diapit oleh tanda kutip atau tidak diapit tanda kutip
e) Di belakang kutipan diberi sumber kutipan.
b. Kutipan tidak langsung
a) Kutipan diintegrasikan dengan teks
b) Jarak anatar baris kutipan spasi rangkap
c) Kutipan tidak diapit tanda kutip
d) Sesudah selesai diberi sumber kutipan
c. Kutipan pada catatan kaki
Kutipan selalu ditempatkan pada spasi rapat, meskipun kutipan itu singkat
saja. Kutipan diberi tanda kutip, dikutip seperti dalam teks asli.
d. Kutipan atas ucapan lisan
Harus dilegalisir dulu oleh pembicara atau sekretarisnya(bila pembicara
seorang pejabat). Dapat dimasukkan ke dalam teks sebagai kutipan langsung atau
kutipan tidak langsung.
e. Kutipan dalam kutipan
Kadang-kadang terjadi bahwa dalam kutipan terdapat lagi kutipan.
Dalam hal ini dapat ditempuh dua cara :
1. Bila kutipan asli tidak memakai tanda kutip, kutipan dalam kutipan dapat
mempergunakan tanda kutip tunggal atau tanda kutip ganda.
2. Bila kutipan asli memakai tanda kutip tunggal, kutipan dalam kutipan memakai
tanda kutip ganda. Sebaliknya bila kutipan asli memakai tanda kutip ganda,
kutipan dalam kutipan memakai tanda kutip tunggal.
f. Kutipan langsung pada materi
Kutipan langsung dimulai dengan materi kutipan hingga perhentian terdekat,
(dapat berupa koma, titik koma, atau titik) disusul dengan sisipan penjelas
siapa yang berbicara.
Contoh :
“Jelas,”kata Prof. Haryati, “kosa kata bahasa Indonesia banyak mengambil dari
kosa kata bahasa Sansekerta.”
Catatan :
Kutipan yang panjang sebainya dimasukkan dalam lampiran
5. Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan
Setelah kita menulis tentang definisi kutipan maupun jenis2nya sekarang mari
kita bahas tentang Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan.
a) Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan langsung tidak lebih dari empat baris
Kutipan ini akan dimasukkan dalam teks dengan cara berikut:
(1) kutipan diintegrasikan dengan teks;
(2) jarak antara baris dengan baris dua spasi;
(3) kutipan diapit dengan tanda kutip;
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukkan setengah spasi ke
atas atau dalam kurung ditempatkan nama pengarang, tahun terbit, dan
nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.
Contoh:
Supaya tulisan kita mudah dipahami orang lain, maka kita hendaknya membuat
kalimat yang efektif. Yang dimaksud dengan kalimat efektif itu yang
bagaimana? “Kalimat efektif adalah kalimat yang dengan sadar atau sengaja
disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik”
(Parera,1988:42). Dengan demikian…..
b) Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan langsung lebih dari empat baris
Kutipan yang lebih dari empat baris ketentuan penulisannya sebagai berikut:
(1) kutipan dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi;
(2) jarak antara baris dengan baris kutipan satu spasi;
(3) kutipan boleh atau tidak diapit dengan tanda kutip;
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas, atau
dalam kurung ditempatkan nama pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman
tempat terdapat kutipan itu;
(5) seluruh kutipan dimasukkan ke dalam 5 – 7 ketikan.
Contoh:
.......................................................................
“Anda tidak bisa menang dalam sebuah debat. Anda tidak bisa, karena kalau Anda kalah, Anda akan kalah; dan kalau Anda menang, Anda kalah juga. Mengapa? Nah, misalkan Anda menang atas pihak lawan dan mampu menembak argumennya sehingga penuh lubang, lalu membuktikan bahwa dia noncomposmentis. Lalu bagaimana? Ya, Anda akan merasa senang. Tapi bagaimana dengan dia? Anda telah membuatnya merasa rendah diri” (Carnegie; 1996:181).
..........................................................................
c) Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan tidak langsung
Kutipan tidak langsung berupa intisari pendapat yang dikemukakan. Oleh sebab itu,
kutipan ini tidak diberi tanda kutip.
Syarat penulisan kutipan tidak langsung adalah:
(1) kutipan diintegrasikan dengan teks;
(2) jarak antarbaris dua spasi;
(3) kutipan tidak diapit tanda kutip;
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas, atau dalam
kurung ditempatkan nama pengarang, tahun terbit, nomor halaman tempat terdapat
kutipan itu.
Contoh:
Menurut Gorys Keraf, kalimat yang baik adalah yang menunjukkan kesatuan gagasan, atau hanya mengandung satu ide pokok. Bila ada dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan digabungkan, maka akan merusak kesatuan pikiran (1994 :36).
6. Penulisan sumber kutipan ada beberapa kemungkinan seperti berikut :
1) Jika sumber kutipan mendahului kutipan, cara penulisannya adalah nama penulis yang diikuti dengan tahun penerbitan, dan nomor halaman yang dikutip yang keduanya diletakkan dalam kurung.
Contoh :
Sebagaimana dikemukakan oleh Sternberg (1984:41), bahwa “In Piaget’s theory, children’s intellectual functioning is represented in terms of symbolic logic.”
2) Jika sumber kutipan ditulis setelah kutipan, maka nama penulis, tahun penerbitan,
dan nomor halaman yang dikutip semuanya diletakkan di dalam kurung.
Contoh :
“The personality pattern is inwardly determined by and closely associated with the maturation of the physical and mental characteristics which constitute the individual’s hereditary endowment” (Hurlock, 1979:19).
3) Jika sumber kutipan merujuk sumber lain atas bagian yang dikutip, maka sumber
kutipan yang ditulis tetap sumber kutipan yang digunakan pengutip tetapi dengan menyebut siapa yang mengemukakan pendapat tersebut.
Contoh :
Chomsky (Yelon dan Weinstein, 1977:62), mengemukakan bahwa ‘...Children are born eith innate understanding of the structure of language.’
4) Jika penulis terdiri atas 2 orang, maka nama keuarga kedua penulis tersebut harus
disebutkan. Misalnya, Sharp dan Green (1996:1). Kalau penulisnya lebih dari 2 orang, maka yang disebutkan nama keluarga dari penulis pertama dan diikuti oleh et al. Misalnya, Mc Clelland et al. (1960:35).
5) Jika masalah yang diikuti dibahas oleh beberapa orang dalam sumber yang
berbeda, maka cara penulisan sumber kutipan itu adalah sebagai berikut :
Beberapa studi tentang anak-anak yang mengalami kesulitan belajar (Dunkey, 1972;Miggs, 1976; Parmenter, 1976) menunjukkan bahwa (tulis intisari rumusan yang dipadukan dari ketiga sumber tersebut).
6) Jika sumber kutipan itu adalah beberapa karya tulis dari penulis yang sama pada tahun yang sama, maka cara penulisannya adalah dengan menambah huruf a, b, dan seterusnya pada tahun penerbitan.
Contoh : (Bray, 1998a, 1998b).
7) Jika sumber kutipan itu tanpa nama, maka penulisnya adalah : (Tn. 1972:18).
Jika yang diutarakan pokok-pokok pikiran seorang penulis, tidak perlu ada kutipan langsung, cukup dengan menyebut sumbernya (tahun : hal).
Sumber : Buku panduan Tugas Akhir AKper AIsyiyah Bandung
7. Contoh Kutipan
a) Kutipan Langsung
• Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Keraf, 1983: 3). ( Contoh kutipan Langsung 1# )
• Menurut Gorys Keraf dalam bukunya Argumentasi dan Narasi (1983:3), argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. (Contoh kutipan Langsung 2# )
• Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara 1. (Contoh kutipan Langsung 3# )
b) Contoh kutipan Tidak Langsung
• Seperti dikatakan oleh Gorys Keraf (1983:3) bahwa argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis. (Contoh kutipan Tidak Langsung 1# )
• Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis (Keraf, 1983:3). (Contoh kutipan Tidak Langsung 2# )
• Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis1). (Contoh kutipan Tidak Langsung 3# )
II. Catatan Kaki
1. Pengertian
Catatan kaki adalah keterangan dari sumber kutipan yang ditempatkan langsung di belakang kutipan. Bila keterangan semacam itu ditempatkan pada akhir bab atau akhir karangan, maka catatan atau keteranagn semacam itu disebut keterangan saja.
Semua kutipan harus ditunjunkan sumbernya dalam sebuah catatn kaki. Catatn kaki dapat juga untuk memberi keterangan lain tentang teks.
2. Tujuan
Catatan kaki dibuat untuk :
a) Menyusun pembuktian
Semua dalil atau pernyataan yang penting, yang bukan merupakan pengetahuan umum harus didukung oleh pembuktian-pembuktian. Pembuktian itu dapat diberikan dalam teks, dapat pula dimasukkan catatan kaki, atau kedua-duanya. Khususnya dalam hal ini, catatan kaki menunjukkan kembali kebenaran-kebenaran yang pernah dicapai oleh seorang pengarang lain dalam bukunya atau tulisan-tulisannya. Sebab itu referensi atau penunjukan dalam catatan kaki dimaksudkan untuk menunjukkan temapat atau sumber dimana suatu kebenaran telah dibuktiksn oleh orsng lain.
b) Menyatakan hutang budi
3. Sistematika penulisan
1. Catatan kaki harus dipisahkan oleh sebuah garis yang panjangnya empat belas karakter dari margin kiri dan berjarak empat spasi dari teks.
2. Catatan kaki diketik berspasi satu.
3. Diberi nomor.
4. Nomor catatan kaki diketik dengan jarak enam karakter dari margin kiri.
5. Jika catatan kakinya lebih dari satu baris maka baris kedua dan selanjutnya dimulai seperti margin teks biasa (tepat pada margin kiri).
6. Jika catatan kakinya lebih dari satu maka jarak antara satu catatan dengan catatan yang lainnya adalah sama dengan jarak spasi teks.
7. Jarak baris terakhir catatan kaki tetap 3 cm dari pinggir kertas bagian bawah.
8. Keterangan yang panjang tidak boleh dilangkaukan ke halaman berikutnya. Lebih baik potong tulisan asli daripada memotong catatan kaki.
9. Jika keterangan yang sama menjadi berurutan (misalnya keterangan nomor 2 sama dengan nomor 3, cukup tuliskan kata ibid daripada mengulang-ulang keterangan catatan kaki.
10. Jika ada keterangan yang sama tapi tidak berurutan, berikan keterangan op.cit., lih [x] [x] merupakan nomor keterangan sebelumnya.
11. Jika keterangan seperti opcit tetapi isinya keterangan tentang artikel, gunakan loc.cit.
12. Untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku tertentu, penulisannya mirip daftar pustaka, tetapi nama pengarang tidak dibalik.
4. Jenis-Jenis catatan Kaki
A. Ibid.(Singkatan dari Ibidium, artinya sama dengan di atas), untuk catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya. Ditulis dengan huruf besar, digarisbawahi, diikuti titik (.) dan koma (,) lalu nomor halaman.
B. Op.cit. (singkatan dari opera citati, artinya dalam karya yang telah dikutip), dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber yang pernah dikutip, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber yang lain. Urutannya : nama pengarang, op.cit., nomor halaman.
C. Lo.cit. (Singkatan dari loco citati, artinya tempat yang telah dikutip), seperti di atas tetapi dari halaman yang sama : nama pengarang loc.cit. nomor halaman
Contohnya :
I. Dari Buku
1Jhon Dewey, How we think
(Chicago : Henry Regney Company, 1974), hlm. 75.
2BP3K,StrategiPengembangan Kekuatan Penularan (Jakarta : Departemen P dan K, 1979),hlm. 81-95.
3Ibid.,hlm. 15.
4Jhon Dewey, op.cit.,hlm. 18
5Jhon Dewey, loc cit
II. Dari Majalah
6Linus Simanjuntak, “Andaikan Kolam itu Bumi Kita”, Suara Alam No. 9(1980), hlm. 17-19.
III. Dari Surat Kabar
7Tajuk rencana dalam Kompas (Jakarta), 7 Mei 1981.
8Artikel dalam Sinar harapan (jakarta), 29 April 1981.
IV. Dari Ensiklopedia
9Jhon E. Bardach, ”Fish”, ”Encyclopedia Americana” (New York Americana Corporation. 1973), 11, hlm. 289-309.
V. Dari sumber yang belum dipublikasikan seperti Tesis, Skripsi, dan Disertasi
10Sabarti Akhadiah, “Pengaruh Materi Pengajaran Bahasa Indonesia, Lokasi Sekolah, dan Jenis Kelamin terhadap Kemampuan Penalaran Ilmiah Siswa SMP” (Disertasi yang tidak diterbitkan, Fakultas Pasca Sarjana Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta, 1983, hlm. 36).
5. Unsur – unsur Catatan Kaki
A. Untuk Buku
1. Nama Pengarang (Editor, penerjemah) ditulis dalam urutan diikuti koma (,)
2. Judul buku ditulis dengan hurufkapital (kecuali dalam kata-kata tugas) dan digarisbawahi.
3. Nama dan nomor seri, kalau ada
4. Data Publikasi
a. Jumlah Jilid, kalau ada
b. Nomor cetakan, kalau ada
c. Kota Penerbit, diikuti titik dua (:)
d. Nama Penerbit, diikuti koma (,)
e. Tahun Penerbitan c, d, e diletakkan diantara tanda kurunf (…)
5. Nomor Jilid, kalau perlu
6. Nomor Halaaman, diikuti titik (.)
B. Untuk Artikel dalam majalah berkala
1. Nama pengarang
2. Judul artikel, diantara tanda kutip “….”
3. Nama majalah, digarisbawahi.
4. Nomor majalah jika ada.
5. Tanggal penerbitan.
6. Nomor halaman.
1. Fungsi catatan kaki
Catatan kaki dicantumkan sebagai pemenuhan kode etik yang berlaku, sebagai penghargaan terhadap karya orang lain
2. Pemakaian
Catatan kaki dipergunakan sebagai :
a. Pendukung keabsahan penemuan atau pernyataan penulis yang tercantum di dalam teks atau sebagai petunjuk sumber.
b. Tempat memperluas pembahasan yang diperlukan tetapi tidak relevan jika dimasukkan di dalam teks, penjelasan ini dapat berupa kutipan pula.
c. Referensi silang, yaitu petunjuk yang menyatakan pada bagian mana/halaman berapa, hal yang sama dibahas di dalam tulisan.
d. Tempat menyatakan penghargaan atas karya atau data yang diterima dari orang lain.
3. Penomoran
Penomoran catatan kaki dilakukan dengan menggunakan angka arab (1,2,2, dan seterusnya) di belakang bagian yang diberi catatan kaki, agak ke atas sedikit tanpa memberikan tanda baca apa pun. Nomor itu dapat berurut untuk setiap halaman, setiap bab, atau seluruh tulisan. Namun sebaiknya untuk lebih efektif berurut untuk seluruh tulisan.
4. Penempatan
Catatan kaki dapat ditempatkan langsung di belakang bagian yang diberi keterangan ( catatan kaki langsung) dan diteruskan dengan teks.
1. Pengertian
Kutipan adalah pinjaman pendapat dari seseorang, baik berupa tulisan dalam buku,
majalah, surat kabar, atau bentuk tulisan lainnya, maupun dalam bentuk lisan.
2. Prinsip mengutip
a. Karena kutipan itu pada hakekatnya adalah pinjamna pendapat seseorang, maka
pengutip jangan mengadakan perubahan, baik kata-katanya maupun tekniknya.
Bila penulis terpaksa mengadakan perbaikan, misalnya dianggap ada kesalahan,
penulis harus memberi keterangan.
Contoh :
‘Tugas bank antara lain adalah memberi pinjam uang.’
Pengutip tahu bahwa dalam kalimat itu ada kata yang salah, namun pengutip
tidak boleh memperbaikinya.
Cara memperbaikinya :
1) ‘Tugas bank antara lain adalah memberi pinjam [seharusnya, pinjam,
penulis] uang.’
2) ‘Tugas bank antara lain adalah memberi pinjam [Sic!] uang.’
[Sic!] artinya dikutip sesuai dengan aslinya.
Cara 2) ini lebih umum.
b. Menghilangkan bagian kutipan
Dalam kutipan diperkenankan menghilangkan bagian-bagian kutipan dengan
syarat bahwa penghilang bagian itu tidak menyebabkan perubahan makna.
Caranya :
1) Menghilanhkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi
2) Menghilangkan bagian kutipan yang lebih dari satu alinea
Bagian yang dihilangkan diganti dengan titik berspasi sepanjang garis (dari
margin kiri sampai ke margin kanan)
3. Jenis-jenis kutipan
1. Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara lengkap
kata demi kata, kalimat demi kalimat dari sumber teks asli.
2. Kutipan tidak langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil inti
sarinya saja.
3. Kutipan pada catatan kaki
4. Kutipan atas ucapan lisan
5. Kutipan dalam kutipan
6. Kutipan langsung pada materi
4. Cara Mengutip
a. Kutipan langsung
♦ yang tidak lebih dari empat baris :
a) Kutipan diintegrasikan dengan teks
b) Jarak antar baris kutipan dua spasi
c) Kutipan diapit dengan tanda kutip
d) Sesudah kutipan selesai, langsung dibelakang yang dikutip dalam
tanda kurung ditulis sumber dari mana kutipan itu diambil, dengan
menulis nama singkat atau nama keluarga pengarang, tahun terbit, dan
nomor halaman tempat kutipan itu diambil.
♦ yang lebih dari empat baris :
a) Kutipan dipisahkan dari teks sejarah tiga spasi
b) Jarak anatr baris kutipan satu spasi
c) Kutipan dimasukkan 5-7 ketukan, sesuai dengan alinea teks pengarang
atau pengutip. Bial kutipan dimulai dengan alinea baru, maka baris
pertama kutipan dimasukkan lagi 5-7 ketukan
d) Kutipan diapit oleh tanda kutip atau tidak diapit tanda kutip
e) Di belakang kutipan diberi sumber kutipan.
b. Kutipan tidak langsung
a) Kutipan diintegrasikan dengan teks
b) Jarak anatar baris kutipan spasi rangkap
c) Kutipan tidak diapit tanda kutip
d) Sesudah selesai diberi sumber kutipan
c. Kutipan pada catatan kaki
Kutipan selalu ditempatkan pada spasi rapat, meskipun kutipan itu singkat
saja. Kutipan diberi tanda kutip, dikutip seperti dalam teks asli.
d. Kutipan atas ucapan lisan
Harus dilegalisir dulu oleh pembicara atau sekretarisnya(bila pembicara
seorang pejabat). Dapat dimasukkan ke dalam teks sebagai kutipan langsung atau
kutipan tidak langsung.
e. Kutipan dalam kutipan
Kadang-kadang terjadi bahwa dalam kutipan terdapat lagi kutipan.
Dalam hal ini dapat ditempuh dua cara :
1. Bila kutipan asli tidak memakai tanda kutip, kutipan dalam kutipan dapat
mempergunakan tanda kutip tunggal atau tanda kutip ganda.
2. Bila kutipan asli memakai tanda kutip tunggal, kutipan dalam kutipan memakai
tanda kutip ganda. Sebaliknya bila kutipan asli memakai tanda kutip ganda,
kutipan dalam kutipan memakai tanda kutip tunggal.
f. Kutipan langsung pada materi
Kutipan langsung dimulai dengan materi kutipan hingga perhentian terdekat,
(dapat berupa koma, titik koma, atau titik) disusul dengan sisipan penjelas
siapa yang berbicara.
Contoh :
“Jelas,”kata Prof. Haryati, “kosa kata bahasa Indonesia banyak mengambil dari
kosa kata bahasa Sansekerta.”
Catatan :
Kutipan yang panjang sebainya dimasukkan dalam lampiran
5. Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan
Setelah kita menulis tentang definisi kutipan maupun jenis2nya sekarang mari
kita bahas tentang Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan.
a) Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan langsung tidak lebih dari empat baris
Kutipan ini akan dimasukkan dalam teks dengan cara berikut:
(1) kutipan diintegrasikan dengan teks;
(2) jarak antara baris dengan baris dua spasi;
(3) kutipan diapit dengan tanda kutip;
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukkan setengah spasi ke
atas atau dalam kurung ditempatkan nama pengarang, tahun terbit, dan
nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.
Contoh:
Supaya tulisan kita mudah dipahami orang lain, maka kita hendaknya membuat
kalimat yang efektif. Yang dimaksud dengan kalimat efektif itu yang
bagaimana? “Kalimat efektif adalah kalimat yang dengan sadar atau sengaja
disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik”
(Parera,1988:42). Dengan demikian…..
b) Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan langsung lebih dari empat baris
Kutipan yang lebih dari empat baris ketentuan penulisannya sebagai berikut:
(1) kutipan dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi;
(2) jarak antara baris dengan baris kutipan satu spasi;
(3) kutipan boleh atau tidak diapit dengan tanda kutip;
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas, atau
dalam kurung ditempatkan nama pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman
tempat terdapat kutipan itu;
(5) seluruh kutipan dimasukkan ke dalam 5 – 7 ketikan.
Contoh:
.......................................................................
“Anda tidak bisa menang dalam sebuah debat. Anda tidak bisa, karena kalau Anda kalah, Anda akan kalah; dan kalau Anda menang, Anda kalah juga. Mengapa? Nah, misalkan Anda menang atas pihak lawan dan mampu menembak argumennya sehingga penuh lubang, lalu membuktikan bahwa dia noncomposmentis. Lalu bagaimana? Ya, Anda akan merasa senang. Tapi bagaimana dengan dia? Anda telah membuatnya merasa rendah diri” (Carnegie; 1996:181).
..........................................................................
c) Tata Cara & Aturan Penulisan Kutipan tidak langsung
Kutipan tidak langsung berupa intisari pendapat yang dikemukakan. Oleh sebab itu,
kutipan ini tidak diberi tanda kutip.
Syarat penulisan kutipan tidak langsung adalah:
(1) kutipan diintegrasikan dengan teks;
(2) jarak antarbaris dua spasi;
(3) kutipan tidak diapit tanda kutip;
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas, atau dalam
kurung ditempatkan nama pengarang, tahun terbit, nomor halaman tempat terdapat
kutipan itu.
Contoh:
Menurut Gorys Keraf, kalimat yang baik adalah yang menunjukkan kesatuan gagasan, atau hanya mengandung satu ide pokok. Bila ada dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan digabungkan, maka akan merusak kesatuan pikiran (1994 :36).
6. Penulisan sumber kutipan ada beberapa kemungkinan seperti berikut :
1) Jika sumber kutipan mendahului kutipan, cara penulisannya adalah nama penulis yang diikuti dengan tahun penerbitan, dan nomor halaman yang dikutip yang keduanya diletakkan dalam kurung.
Contoh :
Sebagaimana dikemukakan oleh Sternberg (1984:41), bahwa “In Piaget’s theory, children’s intellectual functioning is represented in terms of symbolic logic.”
2) Jika sumber kutipan ditulis setelah kutipan, maka nama penulis, tahun penerbitan,
dan nomor halaman yang dikutip semuanya diletakkan di dalam kurung.
Contoh :
“The personality pattern is inwardly determined by and closely associated with the maturation of the physical and mental characteristics which constitute the individual’s hereditary endowment” (Hurlock, 1979:19).
3) Jika sumber kutipan merujuk sumber lain atas bagian yang dikutip, maka sumber
kutipan yang ditulis tetap sumber kutipan yang digunakan pengutip tetapi dengan menyebut siapa yang mengemukakan pendapat tersebut.
Contoh :
Chomsky (Yelon dan Weinstein, 1977:62), mengemukakan bahwa ‘...Children are born eith innate understanding of the structure of language.’
4) Jika penulis terdiri atas 2 orang, maka nama keuarga kedua penulis tersebut harus
disebutkan. Misalnya, Sharp dan Green (1996:1). Kalau penulisnya lebih dari 2 orang, maka yang disebutkan nama keluarga dari penulis pertama dan diikuti oleh et al. Misalnya, Mc Clelland et al. (1960:35).
5) Jika masalah yang diikuti dibahas oleh beberapa orang dalam sumber yang
berbeda, maka cara penulisan sumber kutipan itu adalah sebagai berikut :
Beberapa studi tentang anak-anak yang mengalami kesulitan belajar (Dunkey, 1972;Miggs, 1976; Parmenter, 1976) menunjukkan bahwa (tulis intisari rumusan yang dipadukan dari ketiga sumber tersebut).
6) Jika sumber kutipan itu adalah beberapa karya tulis dari penulis yang sama pada tahun yang sama, maka cara penulisannya adalah dengan menambah huruf a, b, dan seterusnya pada tahun penerbitan.
Contoh : (Bray, 1998a, 1998b).
7) Jika sumber kutipan itu tanpa nama, maka penulisnya adalah : (Tn. 1972:18).
Jika yang diutarakan pokok-pokok pikiran seorang penulis, tidak perlu ada kutipan langsung, cukup dengan menyebut sumbernya (tahun : hal).
Sumber : Buku panduan Tugas Akhir AKper AIsyiyah Bandung
7. Contoh Kutipan
a) Kutipan Langsung
• Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Keraf, 1983: 3). ( Contoh kutipan Langsung 1# )
• Menurut Gorys Keraf dalam bukunya Argumentasi dan Narasi (1983:3), argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. (Contoh kutipan Langsung 2# )
• Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara 1. (Contoh kutipan Langsung 3# )
b) Contoh kutipan Tidak Langsung
• Seperti dikatakan oleh Gorys Keraf (1983:3) bahwa argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis. (Contoh kutipan Tidak Langsung 1# )
• Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis (Keraf, 1983:3). (Contoh kutipan Tidak Langsung 2# )
• Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis1). (Contoh kutipan Tidak Langsung 3# )
II. Catatan Kaki
1. Pengertian
Catatan kaki adalah keterangan dari sumber kutipan yang ditempatkan langsung di belakang kutipan. Bila keterangan semacam itu ditempatkan pada akhir bab atau akhir karangan, maka catatan atau keteranagn semacam itu disebut keterangan saja.
Semua kutipan harus ditunjunkan sumbernya dalam sebuah catatn kaki. Catatn kaki dapat juga untuk memberi keterangan lain tentang teks.
2. Tujuan
Catatan kaki dibuat untuk :
a) Menyusun pembuktian
Semua dalil atau pernyataan yang penting, yang bukan merupakan pengetahuan umum harus didukung oleh pembuktian-pembuktian. Pembuktian itu dapat diberikan dalam teks, dapat pula dimasukkan catatan kaki, atau kedua-duanya. Khususnya dalam hal ini, catatan kaki menunjukkan kembali kebenaran-kebenaran yang pernah dicapai oleh seorang pengarang lain dalam bukunya atau tulisan-tulisannya. Sebab itu referensi atau penunjukan dalam catatan kaki dimaksudkan untuk menunjukkan temapat atau sumber dimana suatu kebenaran telah dibuktiksn oleh orsng lain.
b) Menyatakan hutang budi
3. Sistematika penulisan
1. Catatan kaki harus dipisahkan oleh sebuah garis yang panjangnya empat belas karakter dari margin kiri dan berjarak empat spasi dari teks.
2. Catatan kaki diketik berspasi satu.
3. Diberi nomor.
4. Nomor catatan kaki diketik dengan jarak enam karakter dari margin kiri.
5. Jika catatan kakinya lebih dari satu baris maka baris kedua dan selanjutnya dimulai seperti margin teks biasa (tepat pada margin kiri).
6. Jika catatan kakinya lebih dari satu maka jarak antara satu catatan dengan catatan yang lainnya adalah sama dengan jarak spasi teks.
7. Jarak baris terakhir catatan kaki tetap 3 cm dari pinggir kertas bagian bawah.
8. Keterangan yang panjang tidak boleh dilangkaukan ke halaman berikutnya. Lebih baik potong tulisan asli daripada memotong catatan kaki.
9. Jika keterangan yang sama menjadi berurutan (misalnya keterangan nomor 2 sama dengan nomor 3, cukup tuliskan kata ibid daripada mengulang-ulang keterangan catatan kaki.
10. Jika ada keterangan yang sama tapi tidak berurutan, berikan keterangan op.cit., lih [x] [x] merupakan nomor keterangan sebelumnya.
11. Jika keterangan seperti opcit tetapi isinya keterangan tentang artikel, gunakan loc.cit.
12. Untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku tertentu, penulisannya mirip daftar pustaka, tetapi nama pengarang tidak dibalik.
4. Jenis-Jenis catatan Kaki
A. Ibid.(Singkatan dari Ibidium, artinya sama dengan di atas), untuk catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya. Ditulis dengan huruf besar, digarisbawahi, diikuti titik (.) dan koma (,) lalu nomor halaman.
B. Op.cit. (singkatan dari opera citati, artinya dalam karya yang telah dikutip), dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber yang pernah dikutip, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber yang lain. Urutannya : nama pengarang, op.cit., nomor halaman.
C. Lo.cit. (Singkatan dari loco citati, artinya tempat yang telah dikutip), seperti di atas tetapi dari halaman yang sama : nama pengarang loc.cit. nomor halaman
Contohnya :
I. Dari Buku
1Jhon Dewey, How we think
(Chicago : Henry Regney Company, 1974), hlm. 75.
2BP3K,StrategiPengembangan Kekuatan Penularan (Jakarta : Departemen P dan K, 1979),hlm. 81-95.
3Ibid.,hlm. 15.
4Jhon Dewey, op.cit.,hlm. 18
5Jhon Dewey, loc cit
II. Dari Majalah
6Linus Simanjuntak, “Andaikan Kolam itu Bumi Kita”, Suara Alam No. 9(1980), hlm. 17-19.
III. Dari Surat Kabar
7Tajuk rencana dalam Kompas (Jakarta), 7 Mei 1981.
8Artikel dalam Sinar harapan (jakarta), 29 April 1981.
IV. Dari Ensiklopedia
9Jhon E. Bardach, ”Fish”, ”Encyclopedia Americana” (New York Americana Corporation. 1973), 11, hlm. 289-309.
V. Dari sumber yang belum dipublikasikan seperti Tesis, Skripsi, dan Disertasi
10Sabarti Akhadiah, “Pengaruh Materi Pengajaran Bahasa Indonesia, Lokasi Sekolah, dan Jenis Kelamin terhadap Kemampuan Penalaran Ilmiah Siswa SMP” (Disertasi yang tidak diterbitkan, Fakultas Pasca Sarjana Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta, 1983, hlm. 36).
5. Unsur – unsur Catatan Kaki
A. Untuk Buku
1. Nama Pengarang (Editor, penerjemah) ditulis dalam urutan diikuti koma (,)
2. Judul buku ditulis dengan hurufkapital (kecuali dalam kata-kata tugas) dan digarisbawahi.
3. Nama dan nomor seri, kalau ada
4. Data Publikasi
a. Jumlah Jilid, kalau ada
b. Nomor cetakan, kalau ada
c. Kota Penerbit, diikuti titik dua (:)
d. Nama Penerbit, diikuti koma (,)
e. Tahun Penerbitan c, d, e diletakkan diantara tanda kurunf (…)
5. Nomor Jilid, kalau perlu
6. Nomor Halaaman, diikuti titik (.)
B. Untuk Artikel dalam majalah berkala
1. Nama pengarang
2. Judul artikel, diantara tanda kutip “….”
3. Nama majalah, digarisbawahi.
4. Nomor majalah jika ada.
5. Tanggal penerbitan.
6. Nomor halaman.
1. Fungsi catatan kaki
Catatan kaki dicantumkan sebagai pemenuhan kode etik yang berlaku, sebagai penghargaan terhadap karya orang lain
2. Pemakaian
Catatan kaki dipergunakan sebagai :
a. Pendukung keabsahan penemuan atau pernyataan penulis yang tercantum di dalam teks atau sebagai petunjuk sumber.
b. Tempat memperluas pembahasan yang diperlukan tetapi tidak relevan jika dimasukkan di dalam teks, penjelasan ini dapat berupa kutipan pula.
c. Referensi silang, yaitu petunjuk yang menyatakan pada bagian mana/halaman berapa, hal yang sama dibahas di dalam tulisan.
d. Tempat menyatakan penghargaan atas karya atau data yang diterima dari orang lain.
3. Penomoran
Penomoran catatan kaki dilakukan dengan menggunakan angka arab (1,2,2, dan seterusnya) di belakang bagian yang diberi catatan kaki, agak ke atas sedikit tanpa memberikan tanda baca apa pun. Nomor itu dapat berurut untuk setiap halaman, setiap bab, atau seluruh tulisan. Namun sebaiknya untuk lebih efektif berurut untuk seluruh tulisan.
4. Penempatan
Catatan kaki dapat ditempatkan langsung di belakang bagian yang diberi keterangan ( catatan kaki langsung) dan diteruskan dengan teks.
Jumat, 28 Mei 2010
Proposal
Pengertian Proposal
Sebelum memulai penulisan karya ilmiah, hal-hal yang perlu disiapkan adalah topik tulisan yang sudah jelas, perumusan masalah (research question / thesis statement) yang pasti, dan sumber-sumber informasi yang menunjang. Dengan berbekal 3 hal tersebut, proposal disusun untuk memberikan gambaran awal dari tulisan karya ilmiah atau penelitian yang akan dibuat/disusun.
Proposal merupakan gambaran awal dari penelitian atau tulisan karya ilmiah yang akan dibuat.
Jenis-Jenis Proposal
Berdasarkan bentuknya, proposal dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. proposal berbentuk formal,
2. semiformal,
3. nonformal.
Proposal berbentuk formal terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:
1) Bagian pendahuluan
Yang terdiri atas :
a. sampul dan halaman judul,
b. surat pengantar (kata pengantar)
c. ikhtisar, daftar isi
d. pengesahan permohonan
2) Isi proposal, terdiri atas :
a. Latar belakang
b. Pembatasan masalah
c. Tujuan
d. Ruang lingkup
e. Pemikiran dasar (anggapan dasar)
f. Metodologi, fasilitas, personalia (susunan panitia), keuntungan dan kerugian,
waktu, dan biaya.
3) Bagian pelengkap penutup
Yang berisi :
a. Daftar pustaka,
b. Lampiran,
c. Tabel, dan sebagainya.
Proposal semiformal dan nonformal merupakan variasi atau bentuk lain dari
bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak
selengkap seperti proposal bentuk formal.
Isi Proposal
Jenis dari isi proposal ada dua adalah
a. Isi proposal yang berbentuk kompleks
b. Yang sederhana meliputi:
nama kegiatan (judul), dasar pemikiran, tujuan diadakannya kegiatan, ruang
lingkup, waktu dan tempat kegiatan, penyelenggara (panitia), anggaran biaya,
dan penutup.
Ciri-Ciri Proposal yaitu
1. Proposal dibuat untuk meringkas kegiatan yang akan dilakukan
2. Sebagai pemberitahuan pertama suatu kegiatan
3. Berisikan tujuan-tujuan, latar belakang acara
4. Pastinya proposal itu berupa lembaran-lembaran pemberitahuan yang telah dijilid
yang nantinya diserahkan kepada si empunya acara
5. dan lain-lain yang sulit untuk dijelaskan (dicari).
Jenis - Jenis Proposal
Proposal Penelitian dibagi 4 yaitu:
1. Proposal Penelitian Pengembangan
2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
3. Proposal Penelitian Kualitatif
4. Proposal Penelitian Kuantitatif
Ket :
1. Proposal Penelitian Pengembangan
Kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk
memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan
ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau
temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah.
Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan
menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan
disertasi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, karena karakteristik
kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda.
Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu
permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau
teori untuk memecahkan suatu permasalahan.
2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
Telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya
bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang
relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan
data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan
cara baru dan atau untuk keperluan baru.
Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlukan sebagai sumber ide untuk
menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan
deduksi dari pengetahuan yang sudah ada, sehingga kerangka teori baru dapat
dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.
3. Proposal Penelitian Kualitatif
Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-
kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri
peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan
cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna
(perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.
Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh
karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang
bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang
penuh keotentikan.
4. Proposal Penelitian Kuantitatif
Suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif.
Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun
pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi
permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk
memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di
lapangan.
Hal-hal yang perlu dituliskan pada proposal adalah :
1. Latar belakang
Berisi latar belakang menulis atau melakukan penelitian pada topik yang
dipilih, hal-hal yang menarik atau menimbulkan pertanyaan dari topik ini,
pentingnya topik ini untuk diangkat sebagai tulisan atau untuk diteliti.
2. Perumusan masalah
Berisi thesis statement atau research question yang ditulis secara singkat dan
jelas dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan.
3. Batasan masalah
Menjelaskan batasan-batasan penelitian atau tulisan, misalnya hal-hal yang
tidak akan dibahas atau diteliti, lingkungan yang ditentukan sebagai pembatas,
batasan data atau jumlah materi yang melingkupi penelitian atau tulisan.
4. Tujuan penelitian
Tujuan ditinjau dari aspek keilmuan dan aspek praktis dari sudut pandang
pengguna (berhubungan dengan manfaat penelitian/penulisan)
5. Landasan teori
Secara singkat memberikan penjelasan teori-teori pendukung yang akan
digunakan dalam menulis atau melakukan penelitian.
6. Spesifikasi sistem
Menjelaskan secara umum kebutuhan software/hardware, kemampuan program/sistem
7. Rencana tahapan penelitian
Gantt chart dari rencana pelaksanaan penelitian
8. Daftar pustaka
Bibliography sumber-sumber informasi yang digunakan dengan mengikuti aturan
sebagai berikut :
a. Untuk pustaka dalam bentuk buku yang diterbitkan terdiri atas :
nama pengarang (nama keluarga, nama depan), Judul buku (dicetak miring),
Kota Penerbit : Nama Penerbit, tahun penerbitan.
Sebagai contoh :
Cleveland, Donal D. Introduction to Indexing and Abstracting.
Englewood : Librairies Unlimited, Inc., 2001.
b. Pustaka dalam bentuk Jurnal tercetak : nama pengarang (nama keluarga, nama
depan, “judul artikel”, Nama Jurnal (cetak Miring) , Nomer, Bulan dan Tahun
Terbit, halaman.
Contoh: Dugan, Maire A. “Nested Paradigm”, Annals, IX, March 2001, hlm.56.
c. Pustaka dalam bentuk Jurnal Online : nama pengarang (nama keluarga, nama
depan,“judul artikel”, nama jurnal (cetak miring), nomer, bulan dan tahun
terbit,halaman, nama database. Database on-line. Nama vendor database. Tgl
akses artikel tersebut(tgl/bln/tahun).
Contoh:
McRae, John R. "Buddhism." Journal of Asian Studies 54, no. 2, 1995, hal
354-371. ABI/Inform. Database on-line. UMI-Proquest; tgl akses 13 May 1996.
Woodworth, Griffin Mead, “Hackers, Users, and Suits: Napster and
Representations of Identity”,Popular Music & Society., Vol. 27 no 2, Juni
2004, hal 161-184, Academic Search Premier. Database online. EBSCO. Tgl
akses 21 Sept 2005.
Contoh Proposal di ambil dari http://indonesialanguage.blogspot.com/2008/03/materi-bahasa-indonesia_07.html
KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME karena hanya dengan berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan proposal ini dengan baik.
Proposal ini membahas mangenai penanganan bencana banjir di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Penanganan akan dilakukan secara bertahap dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Korban bencana banjir akan mendapatkan sumbangan berupa makanan, pakaian, serta obat-obatan. Ini merupakan langkah yang diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Bekasi dalam menangani musibah banjir kali ini.
Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang membantu tersusunnya proposal ini. Kami dapat menyadari dalam pembuatan proposal ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi isi materi maupun dari segi penulisan proposal ini, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan. Terima kasih.
Penjelasan Mengenai Kegiatan Bhakti Sosial
Proposal ini akan menjelaskan mengenai kegiatan Bhakti Sosial yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Bekasi dalam menangani musibah banjir tahun ini. Banyak sukarelawan-sukarelawan yang telah ikut membantu tersusunnya makalah ini serta banyakjuga bantuan-bantuan yang telah kami terima berupa : beras, mie instan, pakaian, selimut,obat-obatan, perlengkapan mandi, tikar, dan uang. Bantuan-bantuan ini semua akan dijabarkan dalam tabel berikut ini :
No. Jenis Bantuan Banyaknya Barang Telah didapatkan sudah disumbangkan
1. Beras 60 karung 25 karung
2. Mie instan 500 dus 200 dus
3. Pakaian Cukup tersedia Sekian banyak
4. Selimut 150 buah 120 buah
5. Tikar 120 buah 80 buah
6. Obat-obatan Tersedia Sekian banyak
7. Perlengkapan mandi Tersedia Sekian banyak
8. Uang yang diterima Rp. 3.000.000.000.- Rp. 1.750.000.000,-
Demikian yang telah kami sampaikan. Kami sangat berterima kasih sekali atas kerja samanya, bantuan dari sukarelawan yang telah membantu, dermawan-dermawan yang ikhlas menyumbangkan bantuannya berupa hal-hal yang yang sudah dijabarkan diatas tersebut. Terima kasih atas bantuan sumuanya.
PENUTUP
Kami ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini, terutama kepada dermawan-dermawan yang telah membantu kami dari segi material untuk korban banjir di wilayah Bekasi. Mungkin dalam proposal ini terdapat banyak tulisan yang kurang berkenan dihati sdr. sekalian, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu, kami harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah kami selanjutnya. Dan semua bantuan-bantuannya dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Amien.
Bekasi, Februari 2007
Tim Penyusun
JL. JEND. SUDIRMAN KM.32
KOTA BEKASI
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.....................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................
1.2. Tujuan ....................................................................
1.3. Jenis Kegiatan.............................................................
1.4. Waktu dan Tempat...........................................................
1.5. Susunan Acara..............................................................
1.6. Susunan Panitia............................................................
1.7. Rencana Anggaran...........................................................
BAB II PENUTUP
2.1.Kesimpulan..................................................................
LATAR BELAKANG
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang selalu peduli dan saling bekerja sama satu dengan yang lainnya. Hal ini juga tercantum dalam Pancasila sila ke-2 yang berbunyi ,”Kemanusiaan yang adil dan beradab”.
Selain itu, kini bangsa Indonesia sedang ditimpa berbagai macam bencana alam. Untuk itu, kita sebagai rakyat Indonesia yang cinta tanah air, kita wajib peduli terhadap bencana-bencana tersebut dan juga kita harus bersama-sama menggalangkan jiwa untuk membantu keluarga-keluarga lainnya yang tertimpa musibah.
Oleh karena itu, kami berniat untuk mengadakan PENSI (Pentas Seni) untuk menggalang dana melalui asara BAKSOS (Bakti Sosial), dan juga acara tersebut berguna untuk mengembangkan kretifitas seni siswa SMA Martia Bhakti. Semoga acara ini dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.
TUJUAN
Adapun tujuan dengan diadakannya Pensi ini adalah sebagai berikut :
Untuk menunjukkan sejauh mana kretifitas siswa,
Untuk penggalangan dana,
Untuk mengembangkan potensi dalam diri siswa terutama pada bidang seni, dan
Untuk membantu korban bencana alam.
JENIS KEGIATAN
Adapun kegiatan yang akan dilaksakan antara lain :
Pensi
Bakti Sosial
Bazaar
Waktu dan Tempat
Adapun waktu kegiatan PENSI tersebut diadakan pada :
Hari, tanggal : Sabtu, 8 Desember 2007
Tempat : SMA Martia Bhakti Bekasi
Waktu : Pukul 09.00 – selesai
SUSUNAN ACARA
09.00 – 10.00 : Sambutan Panitia
10.00 – 11.00 : Pembacaan ayat-ayat suci al-qur’an
11.00 – 12.30 : Pembukaan Bazaar
12.30 – 15.30 : Acara Hiburan
15.30 – 17.00 : Bakti Sosial
17.00 – 17.30 : Doa dan penutup
SUSUNAN PANITIA
- Ketua Pelaksana : Rifky Rahmansyah
- Sekretaris : Robby Azmy
- Bendahara : Ramadhan Prariyadi
- Sie. Acara : Muhammad Aziz
- Sie. Humas : Indarto
- Sie. Dekorasi : Aprillia Susanti
- Sie. Perlengkapan : Rivani Erlanda
RENCANA ANGGARAN
1. Pemasukan
- Bantuan dari donatur Rp 8.000.000,-
- Sponsor dari INDOSAT Rp 10.000.000,-
- Sponsor dari “Prambors” Rp 7.250.000,-
- Sponsor dari Coca-cola Rp 2.750.000,-
- Sponsor dari HONDA Rp 10.000.000,- + Rp 38.000.000,-
2. Pengeluaran
- Sewa perlengkapan Rp 5.000.000,-
- Sewa artis Rp 19.000.000,-
- Dekorasi Rp 2.000.000,-
- Konsumsi Rp 5.500.000,-
- Bakti sosial Rp 5.000.000,-
- Biaya tak terduga Rp 2.000.000,- + Rp 38.000.000
PENUTUP
Dengan demikian proposal ini dibuat dalam rangka menggalang dana untuk korban bencana alam dan juga agar dapat meningkatkan kretifitas siswa SMA Martia Bhakti. Kami berharap, acara ini bisa bermanfaat banyak. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Ketua Sekretaris Mengetahui,
Kepala Sekolah SMA Martia Bhakti
( Rifky Rahmansyah) ( Rivani Erlanda) ( Fatahillah M.Pd. )
Sebelum memulai penulisan karya ilmiah, hal-hal yang perlu disiapkan adalah topik tulisan yang sudah jelas, perumusan masalah (research question / thesis statement) yang pasti, dan sumber-sumber informasi yang menunjang. Dengan berbekal 3 hal tersebut, proposal disusun untuk memberikan gambaran awal dari tulisan karya ilmiah atau penelitian yang akan dibuat/disusun.
Proposal merupakan gambaran awal dari penelitian atau tulisan karya ilmiah yang akan dibuat.
Jenis-Jenis Proposal
Berdasarkan bentuknya, proposal dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. proposal berbentuk formal,
2. semiformal,
3. nonformal.
Proposal berbentuk formal terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:
1) Bagian pendahuluan
Yang terdiri atas :
a. sampul dan halaman judul,
b. surat pengantar (kata pengantar)
c. ikhtisar, daftar isi
d. pengesahan permohonan
2) Isi proposal, terdiri atas :
a. Latar belakang
b. Pembatasan masalah
c. Tujuan
d. Ruang lingkup
e. Pemikiran dasar (anggapan dasar)
f. Metodologi, fasilitas, personalia (susunan panitia), keuntungan dan kerugian,
waktu, dan biaya.
3) Bagian pelengkap penutup
Yang berisi :
a. Daftar pustaka,
b. Lampiran,
c. Tabel, dan sebagainya.
Proposal semiformal dan nonformal merupakan variasi atau bentuk lain dari
bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak
selengkap seperti proposal bentuk formal.
Isi Proposal
Jenis dari isi proposal ada dua adalah
a. Isi proposal yang berbentuk kompleks
b. Yang sederhana meliputi:
nama kegiatan (judul), dasar pemikiran, tujuan diadakannya kegiatan, ruang
lingkup, waktu dan tempat kegiatan, penyelenggara (panitia), anggaran biaya,
dan penutup.
Ciri-Ciri Proposal yaitu
1. Proposal dibuat untuk meringkas kegiatan yang akan dilakukan
2. Sebagai pemberitahuan pertama suatu kegiatan
3. Berisikan tujuan-tujuan, latar belakang acara
4. Pastinya proposal itu berupa lembaran-lembaran pemberitahuan yang telah dijilid
yang nantinya diserahkan kepada si empunya acara
5. dan lain-lain yang sulit untuk dijelaskan (dicari).
Jenis - Jenis Proposal
Proposal Penelitian dibagi 4 yaitu:
1. Proposal Penelitian Pengembangan
2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
3. Proposal Penelitian Kualitatif
4. Proposal Penelitian Kuantitatif
Ket :
1. Proposal Penelitian Pengembangan
Kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk
memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan
ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau
temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah.
Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan
menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan
disertasi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, karena karakteristik
kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda.
Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu
permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau
teori untuk memecahkan suatu permasalahan.
2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
Telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya
bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang
relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan
data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan
cara baru dan atau untuk keperluan baru.
Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlukan sebagai sumber ide untuk
menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan
deduksi dari pengetahuan yang sudah ada, sehingga kerangka teori baru dapat
dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.
3. Proposal Penelitian Kualitatif
Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-
kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri
peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan
cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna
(perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.
Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh
karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang
bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang
penuh keotentikan.
4. Proposal Penelitian Kuantitatif
Suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif.
Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun
pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi
permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk
memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di
lapangan.
Hal-hal yang perlu dituliskan pada proposal adalah :
1. Latar belakang
Berisi latar belakang menulis atau melakukan penelitian pada topik yang
dipilih, hal-hal yang menarik atau menimbulkan pertanyaan dari topik ini,
pentingnya topik ini untuk diangkat sebagai tulisan atau untuk diteliti.
2. Perumusan masalah
Berisi thesis statement atau research question yang ditulis secara singkat dan
jelas dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan.
3. Batasan masalah
Menjelaskan batasan-batasan penelitian atau tulisan, misalnya hal-hal yang
tidak akan dibahas atau diteliti, lingkungan yang ditentukan sebagai pembatas,
batasan data atau jumlah materi yang melingkupi penelitian atau tulisan.
4. Tujuan penelitian
Tujuan ditinjau dari aspek keilmuan dan aspek praktis dari sudut pandang
pengguna (berhubungan dengan manfaat penelitian/penulisan)
5. Landasan teori
Secara singkat memberikan penjelasan teori-teori pendukung yang akan
digunakan dalam menulis atau melakukan penelitian.
6. Spesifikasi sistem
Menjelaskan secara umum kebutuhan software/hardware, kemampuan program/sistem
7. Rencana tahapan penelitian
Gantt chart dari rencana pelaksanaan penelitian
8. Daftar pustaka
Bibliography sumber-sumber informasi yang digunakan dengan mengikuti aturan
sebagai berikut :
a. Untuk pustaka dalam bentuk buku yang diterbitkan terdiri atas :
nama pengarang (nama keluarga, nama depan), Judul buku (dicetak miring),
Kota Penerbit : Nama Penerbit, tahun penerbitan.
Sebagai contoh :
Cleveland, Donal D. Introduction to Indexing and Abstracting.
Englewood : Librairies Unlimited, Inc., 2001.
b. Pustaka dalam bentuk Jurnal tercetak : nama pengarang (nama keluarga, nama
depan, “judul artikel”, Nama Jurnal (cetak Miring) , Nomer, Bulan dan Tahun
Terbit, halaman.
Contoh: Dugan, Maire A. “Nested Paradigm”, Annals, IX, March 2001, hlm.56.
c. Pustaka dalam bentuk Jurnal Online : nama pengarang (nama keluarga, nama
depan,“judul artikel”, nama jurnal (cetak miring), nomer, bulan dan tahun
terbit,halaman, nama database. Database on-line. Nama vendor database. Tgl
akses artikel tersebut(tgl/bln/tahun).
Contoh:
McRae, John R. "Buddhism." Journal of Asian Studies 54, no. 2, 1995, hal
354-371. ABI/Inform. Database on-line. UMI-Proquest; tgl akses 13 May 1996.
Woodworth, Griffin Mead, “Hackers, Users, and Suits: Napster and
Representations of Identity”,Popular Music & Society., Vol. 27 no 2, Juni
2004, hal 161-184, Academic Search Premier. Database online. EBSCO. Tgl
akses 21 Sept 2005.
Contoh Proposal di ambil dari http://indonesialanguage.blogspot.com/2008/03/materi-bahasa-indonesia_07.html
KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME karena hanya dengan berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan proposal ini dengan baik.
Proposal ini membahas mangenai penanganan bencana banjir di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Penanganan akan dilakukan secara bertahap dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Korban bencana banjir akan mendapatkan sumbangan berupa makanan, pakaian, serta obat-obatan. Ini merupakan langkah yang diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Bekasi dalam menangani musibah banjir kali ini.
Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang membantu tersusunnya proposal ini. Kami dapat menyadari dalam pembuatan proposal ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi isi materi maupun dari segi penulisan proposal ini, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan. Terima kasih.
Penjelasan Mengenai Kegiatan Bhakti Sosial
Proposal ini akan menjelaskan mengenai kegiatan Bhakti Sosial yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Bekasi dalam menangani musibah banjir tahun ini. Banyak sukarelawan-sukarelawan yang telah ikut membantu tersusunnya makalah ini serta banyakjuga bantuan-bantuan yang telah kami terima berupa : beras, mie instan, pakaian, selimut,obat-obatan, perlengkapan mandi, tikar, dan uang. Bantuan-bantuan ini semua akan dijabarkan dalam tabel berikut ini :
No. Jenis Bantuan Banyaknya Barang Telah didapatkan sudah disumbangkan
1. Beras 60 karung 25 karung
2. Mie instan 500 dus 200 dus
3. Pakaian Cukup tersedia Sekian banyak
4. Selimut 150 buah 120 buah
5. Tikar 120 buah 80 buah
6. Obat-obatan Tersedia Sekian banyak
7. Perlengkapan mandi Tersedia Sekian banyak
8. Uang yang diterima Rp. 3.000.000.000.- Rp. 1.750.000.000,-
Demikian yang telah kami sampaikan. Kami sangat berterima kasih sekali atas kerja samanya, bantuan dari sukarelawan yang telah membantu, dermawan-dermawan yang ikhlas menyumbangkan bantuannya berupa hal-hal yang yang sudah dijabarkan diatas tersebut. Terima kasih atas bantuan sumuanya.
PENUTUP
Kami ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu dalam penyelesaian proposal ini, terutama kepada dermawan-dermawan yang telah membantu kami dari segi material untuk korban banjir di wilayah Bekasi. Mungkin dalam proposal ini terdapat banyak tulisan yang kurang berkenan dihati sdr. sekalian, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu, kami harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah kami selanjutnya. Dan semua bantuan-bantuannya dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Amien.
Bekasi, Februari 2007
Tim Penyusun
JL. JEND. SUDIRMAN KM.32
KOTA BEKASI
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.....................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................
1.2. Tujuan ....................................................................
1.3. Jenis Kegiatan.............................................................
1.4. Waktu dan Tempat...........................................................
1.5. Susunan Acara..............................................................
1.6. Susunan Panitia............................................................
1.7. Rencana Anggaran...........................................................
BAB II PENUTUP
2.1.Kesimpulan..................................................................
LATAR BELAKANG
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang selalu peduli dan saling bekerja sama satu dengan yang lainnya. Hal ini juga tercantum dalam Pancasila sila ke-2 yang berbunyi ,”Kemanusiaan yang adil dan beradab”.
Selain itu, kini bangsa Indonesia sedang ditimpa berbagai macam bencana alam. Untuk itu, kita sebagai rakyat Indonesia yang cinta tanah air, kita wajib peduli terhadap bencana-bencana tersebut dan juga kita harus bersama-sama menggalangkan jiwa untuk membantu keluarga-keluarga lainnya yang tertimpa musibah.
Oleh karena itu, kami berniat untuk mengadakan PENSI (Pentas Seni) untuk menggalang dana melalui asara BAKSOS (Bakti Sosial), dan juga acara tersebut berguna untuk mengembangkan kretifitas seni siswa SMA Martia Bhakti. Semoga acara ini dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya.
TUJUAN
Adapun tujuan dengan diadakannya Pensi ini adalah sebagai berikut :
Untuk menunjukkan sejauh mana kretifitas siswa,
Untuk penggalangan dana,
Untuk mengembangkan potensi dalam diri siswa terutama pada bidang seni, dan
Untuk membantu korban bencana alam.
JENIS KEGIATAN
Adapun kegiatan yang akan dilaksakan antara lain :
Pensi
Bakti Sosial
Bazaar
Waktu dan Tempat
Adapun waktu kegiatan PENSI tersebut diadakan pada :
Hari, tanggal : Sabtu, 8 Desember 2007
Tempat : SMA Martia Bhakti Bekasi
Waktu : Pukul 09.00 – selesai
SUSUNAN ACARA
09.00 – 10.00 : Sambutan Panitia
10.00 – 11.00 : Pembacaan ayat-ayat suci al-qur’an
11.00 – 12.30 : Pembukaan Bazaar
12.30 – 15.30 : Acara Hiburan
15.30 – 17.00 : Bakti Sosial
17.00 – 17.30 : Doa dan penutup
SUSUNAN PANITIA
- Ketua Pelaksana : Rifky Rahmansyah
- Sekretaris : Robby Azmy
- Bendahara : Ramadhan Prariyadi
- Sie. Acara : Muhammad Aziz
- Sie. Humas : Indarto
- Sie. Dekorasi : Aprillia Susanti
- Sie. Perlengkapan : Rivani Erlanda
RENCANA ANGGARAN
1. Pemasukan
- Bantuan dari donatur Rp 8.000.000,-
- Sponsor dari INDOSAT Rp 10.000.000,-
- Sponsor dari “Prambors” Rp 7.250.000,-
- Sponsor dari Coca-cola Rp 2.750.000,-
- Sponsor dari HONDA Rp 10.000.000,- + Rp 38.000.000,-
2. Pengeluaran
- Sewa perlengkapan Rp 5.000.000,-
- Sewa artis Rp 19.000.000,-
- Dekorasi Rp 2.000.000,-
- Konsumsi Rp 5.500.000,-
- Bakti sosial Rp 5.000.000,-
- Biaya tak terduga Rp 2.000.000,- + Rp 38.000.000
PENUTUP
Dengan demikian proposal ini dibuat dalam rangka menggalang dana untuk korban bencana alam dan juga agar dapat meningkatkan kretifitas siswa SMA Martia Bhakti. Kami berharap, acara ini bisa bermanfaat banyak. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Ketua Sekretaris Mengetahui,
Kepala Sekolah SMA Martia Bhakti
( Rifky Rahmansyah) ( Rivani Erlanda) ( Fatahillah M.Pd. )
Senin, 26 April 2010
Hakikat Masalah Penilitian
Pengertian Penelitian
Penelitian adalah langkah sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris (Sudjana, 2001).
Masalah Penelitian
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, atau kesenjangan antara teori dengan praktik, kesenjangan antara cita dengan realita, atau sesuatu yang memerlukan jawaban dan penjelasan. Tidak selamanya, masalah dapat menggambarkan kesenjangan, tapi terkadang juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Kualifikasi Masalah
Setidaknya ada dua kualifikasi masalah yang baik, yakni mempunyai nilai penelitian dan layak untuk diteliti. Masalah itu harus memiliki nilai penelitian, yakni dapat diuji, orisinal, dan urgen untuk diteliti, serta dapat memberikan kontribusi terhadap pegembangan ilmu, kebijakan atau yang sebangsanya. Kemudian masalah juga harus didukung oleh data dan tidak ada kendala bagi peneliti untuk mengakses data tersebut dari sumber-sumber primernya
Macam-macam Masalah
- Masalah deskriptif biasanya digunakan untuk model-model penelitian variabel tunggal, atau beberapa variabel tapi tidak mengukur intercorelatioanlnya, dan peneliti bermaksud hanya mendeskripsikan masing-masing variabel tersebut, seperti, bagaimana sikap masyarakat terhadap kehadiran hypermarket di kota kabupaten ?, Apakah layanan staf front desk sudah memberikan kepuasan bagi pelangan ?.
- Model komparatif dikembangkan jika penelitian dilakukan untuk membandingkan satu atau lebih variabel dalam dua kelompok sampel. Seperti, Adakah perbedaan produktifitas pemasaran antara karyawan tetap dengan karyawan kontrak ? dan yang sebangsanya.
- Sedangkan model asosiatif dikembangkan untuk penelitian yang bertendensi untuk menjelaskan pengaruh atau hubungan antara dua variabel atau lebih, seperti apakah motivasi berhubungan dengan prestasi kerja ?, apakah sistem penggajian mempengaruhi prestasi kerja karyawan ?, dan yang sebangsanya.
Metode Menemukan Permasalahan Penelitian
Seperti telah dikemukakan didepan bahwa menentukan masalah adalah pekerjaan yang sangat penting. Permasalahan hendaknya memiliki dampak dimasa yang akan datang. Jika masalah yang akan diangkat ternyata tidak memiliki dampak dimasa mendatang, sebaiknya tidak perlu di angkat dalam karya ilmiah. Seperti pada Mahasiswa yang sering mengalami jalan buntu saat memikirkan masalah apa yang akan diungkap dalam karya ilmiahnya.
Ada beberapa cara untuk membantu menemukan permasalahan, diantaranya melalui
( a ) diskusi, ( b ) daya khayal dan ( c ) intuisi. Berikut ini ketiga cara tersebut yaitu :
a) Diskusi
Diskusi merupakan cara yang mudah dilakukan untuk menentukan permasalahan. Diskusi dapat dilakukan dengan teman atau penulis senior. Melalui diskusi dapat memberi berbagai alternatif pemecahan, yaitu :
1. Orang lain dapat melihat persoalan dari sisi lain sehingga memungkinkan memberi
ide-ide baru yang bermanfaat.
2. Dari berbagai pandangan peserta diskusi, dapat disintesikan menjadi suatu ide baru.
3. Melalui diskusi, masing-masing ide akan mendapat kritikan sehingga diperoleh ide
baru yang benar-benar solid.
4. Masalah yang ditemukan melalui diskusi benar-benar masalah yang sangat bermanfaat,
bukan merupakan permasalah peneliti sendiri.
5. Kemungkinan terjadi pengulangan permasalahan menjadi semakin kecil, karena telah
dicermati oleh orang banyak ( peserta diskusi ).
b) Menggunakan Potensi Daya Khayal
Pada situasi tertentu, terutama saat bebas dari pekerjaan fisik maupun mental yang cukup melelahkan, orang sering melanturkan pikiran ke arah di luar persoalan yang
sedang dihadapi. Proses ini tentunya akan menyerap energi yang sebenarnya dapat
dimanfaatkan untuk memecahkan masalah- masalah yang penting.
Pada waktu luang misalnya menjelang tidur sering pikiran diperbolehkan berkembang kemana-mana secara leluasa bahkan apa yang ada dalam pikiran adalah hal-hal yang sangat aneh ( sangat tidak mungkin ). Memanjakan pikiran secara leluasa ini dinamakan melamun. Melamun adalah aktifitas yang seharusnya dijauhi karena tidak akan menemukan pemecahan masalah maupun menemukan masalah dalam kontek penelitian .
Aktifitas otak yang mirip dengan melamun adalah daya khayal. Kedua aktifitas ini sebenarnya tidak sama, hanya orang sering menyamakan kedua pengertian tersebut. Kalau orang sedang memecahkan masalah, langkah-langkah yang lazim ditempuh adalah menghubung-hubungkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui pengalaman praktek maupun melalui membaca buku yang relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi. Namun demikian terkadang munculnya pemikiran untuk memecahkan masalah tanpa berdasarkan pengalaman yang telah diperoleh dimasa lalu. Orang dapat menghubungkan beberapa fenomena tanpa melalui tahap – tahap yang lazim. Kemampuan ini dinamakan kemampuan daya khayal. Tiap orang mempunyai day khayal tidak sama, tergantung sejauh mana mereka sering melatih. Kemampuan daya khayal juga dipengaruhi oleh pembawaan sejak lahir.
Potensi daya khayal dapat ditingkatkan dengan cara sering menggunakan daya khayal setiap akan memecahkan masalah apa saja atau saat mencari permasalahan penelitian. Dalam menggunakan daya khayal, coba bayangkan atau buat gambaran dalam pikiran tentang sesuatu yang berkaitan dengan apa yang diinginkan .
Dengan memiliki potensi daya khayal yang tinggi, dapat diterapkan potensi tersebut dalam mencari masalah penelitian. Daya khayal dapat dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi dalam mencari permasalahan penelitian. Kecuali itu daya khayal dapat digunakan untuk merangsang penerapan hasil penelitian yang lebih tepat, sebab dengan memanfaatkan daya khayal seseorang dapat membayangkan implikasi-implikasi hasil penelitian. Daya khayal memungkinkan kita untuk menjelajah ke daerah yang belum kita kinal bersamaan dengan itu akal memeriksa temuan-temuan dengan lebih teliti .
c) Memanfaatkan Intuisi
Dalam memecahkan masalah atau mencari masalah penelitian, intuisi sangat besar manfaatnya. Istilah intuisi ada yang menyebut firasat atau ilham. Pengertian tersebut pada dasarnya sama yaitu suatu pengertian atau penjelasan yang datangnya secara tiba-tiba.
Terjadinya intuisi tidak tentu datangnya, maka sebaiknya jika kita mendapat intuisi, langsung dicatat. Sering terjadi timbulnya intuisi justru pada saat seseorang tidak memikirkan secara sadar mengenai masalah yang dihadapi. Sebagai contoh, yaitu peristiwa yang dialami oleh Archimedes. Waktu beliau sedang merendam diri dalam bak air, tiba-tiba ditemukan pemecahan masalah yang sedang dipikirkan yang dikenal “ hukum Archimedes “.
Intuisi dapat terjadi pada saat sedang tidur. Singer, penemu mesin jahit menemukan lubang jarum mesin jahit pada ujungnya ketika dia dalam tekanan yang sangat berat dari pihak yang memberi proyeknya. Dia bermimpi dikepung orang-orang liar yang menusuk – nusuk dengan tombak yang berlobang diujungnya.
Pada prinsipnya intuisi dapat timbul kapan saja, yaitu pada saat orang sedang berusaha memecahkan masalah atau beristirahat sebentar setelah berusaha dan mengalihkan pikiran ke hal-hal lain. Bagaimana cara memperoleh intuisi ? Ada beberapa cara untuk memperoleh intuisi yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan permasalahan penelitian atau tujuan – tujuan lain, yaitu :
1. Pikirkan secara mendalam mengenai persoalan hingga pikiran kita jenuh. Dengan penjenuhan pikiran, akan memungkinkan bekerjanya pikiran bawah sadar.
2. Melepaskan diri dari semua persoalan atau gangguan yang selama ini dipikirkan. Persoalan keluarga, kekacauan pikiran, sangat mengganggu perolehan intuisi.
3. Gunakan waktu luang untuk benar-benar beristirahat setelah usaha keras dilakukan. Pekerjaan yang tidak membutuhkan usaha mental seperti mengerjakan hobi ( memancing, rekreasi ), berjalan-jalan, kerja fisik ringan sering membantu memperoleh intuisi.
4. Menciptakan rangsangan positif dengan melalui
( a ) diskusi, b ) membaca tulisan ilmiah ( hasil-hasil penelitian ), dan ( c )
membaca tulisan yang bertentangan dengan pandangan kita.
Secara substantif, masalah yang akan diangkat menjadi karya ilmiah dituntut memenuhi kriteria, antara lain :
1. Tepat waktu, yaitu masalah yang sedang hangat diperbincangkan saat ini.
2. Menjawab masalah praktis yang mendesak untuk dipecahkan.
3. Masalah yang diangkat berdampak luas dalam masyarakat.
4. Mempertajam konsep yang sudah ada.
5. Originalitas, yaitu masalahnya benar-benar baru.
Ditinjau dari tingkat urgensinya permasalahan dapat dikelompokkan menjadei tiga, yaitu:
1.Pseudo problem, yaitu masalah yang semu, artinya masalah tersebut masih pada taraf yang tidak begitu membahayakan bahkan jika tidak diatasi tidak begitu berdeampak negatif terhadap lingkungannya.
2. Actual problem, yaitu masalah yang dirasakan oleh kelompok tertentu dan jika tidak diatasi, kelompok tersebut merasa terganggu. Bentuk teknologi yang digunakan untuk mengatasi masalah yang dikategorikan actual problem tidak teknologi baru, tetapi orang lain di tempat berbeda mungkin sudah pernah mengetahui atau pernah melakukan pemecahannya.
3. Genuine problem, yaitu masalah yang benar-benar baru, artinya cara pemecahan masalah belum pernah dilakukan orang lain.
Dari ketiga kelompok tersebut sedapat mungkin dicari permasalahan yang genuine, jika tidak mampu mengatasi masalah yang sifatnya genuine problem, actual problem masih dapat di buat untuk karya ilmiah. Sedapat mungkin hindari masalah yang semu (problem).
Sumber-sumber yang bisa dijadikan acuan dalam mencari permasalahan antara lain:
1. Inventarisasi permasalahan di departemen-departemen yang biasa disebar ke
Bappeda/ Kanwil.
2. Permasalahan yang timbul melalui polemik surat kabar.
3. Permasalahan yang terlontar lewat jurnal-jurnal profesional.
4. Kristalisasi pengalaman pribadi di lapangan.
5. Saran-saran skripsi/ tesis yang dibuat orang lain.
6. Pengamatan
7. Kepustakaan yang relevan dgn studi kita
8. Mata kuliah yang kita programkan
9. Buku, dan abstrak
10. Seminar
11. Pakar, dan teman-teman
Ciri-ciri masalah yang baik dalam Penelitian
- Topik yg dipilih sangat menarik
- Pemecahan masalah mempunyai kontribusi dalam labangan pekerjaan atau bidang
tertentu
- Merupakan hal baru
- Mengundangan rancangan yang kompleks
- Dapat diselesaikan dlm waktu yg diinginkan
- Tidak bertentangan dengan moral
Rumusan masalah yang baik dalam Penelitian
- Didukung oleh latar belakang masalah dan pejelasan mengenai pentingnya masalah
diteliti
- Memuat variabel-variabel dan kaitan antar variabel yg mjd perhatian peneliti
- Memberikan penjelasan atau definisi setiap variabel (konseptual & operasional)
CONTOH:
1. Apakah ada pengaruh penggunaan kalkulator terhadap hasil belajar matematika siswa
SD?
2. Apakah ada hubungan positif antara kemampuan spatial dengan hasil belajar geometri
siswa SMP?
3. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diberi metode
PS dengan yang tidak?
Penelitian adalah langkah sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris (Sudjana, 2001).
Masalah Penelitian
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, atau kesenjangan antara teori dengan praktik, kesenjangan antara cita dengan realita, atau sesuatu yang memerlukan jawaban dan penjelasan. Tidak selamanya, masalah dapat menggambarkan kesenjangan, tapi terkadang juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Kualifikasi Masalah
Setidaknya ada dua kualifikasi masalah yang baik, yakni mempunyai nilai penelitian dan layak untuk diteliti. Masalah itu harus memiliki nilai penelitian, yakni dapat diuji, orisinal, dan urgen untuk diteliti, serta dapat memberikan kontribusi terhadap pegembangan ilmu, kebijakan atau yang sebangsanya. Kemudian masalah juga harus didukung oleh data dan tidak ada kendala bagi peneliti untuk mengakses data tersebut dari sumber-sumber primernya
Macam-macam Masalah
- Masalah deskriptif biasanya digunakan untuk model-model penelitian variabel tunggal, atau beberapa variabel tapi tidak mengukur intercorelatioanlnya, dan peneliti bermaksud hanya mendeskripsikan masing-masing variabel tersebut, seperti, bagaimana sikap masyarakat terhadap kehadiran hypermarket di kota kabupaten ?, Apakah layanan staf front desk sudah memberikan kepuasan bagi pelangan ?.
- Model komparatif dikembangkan jika penelitian dilakukan untuk membandingkan satu atau lebih variabel dalam dua kelompok sampel. Seperti, Adakah perbedaan produktifitas pemasaran antara karyawan tetap dengan karyawan kontrak ? dan yang sebangsanya.
- Sedangkan model asosiatif dikembangkan untuk penelitian yang bertendensi untuk menjelaskan pengaruh atau hubungan antara dua variabel atau lebih, seperti apakah motivasi berhubungan dengan prestasi kerja ?, apakah sistem penggajian mempengaruhi prestasi kerja karyawan ?, dan yang sebangsanya.
Metode Menemukan Permasalahan Penelitian
Seperti telah dikemukakan didepan bahwa menentukan masalah adalah pekerjaan yang sangat penting. Permasalahan hendaknya memiliki dampak dimasa yang akan datang. Jika masalah yang akan diangkat ternyata tidak memiliki dampak dimasa mendatang, sebaiknya tidak perlu di angkat dalam karya ilmiah. Seperti pada Mahasiswa yang sering mengalami jalan buntu saat memikirkan masalah apa yang akan diungkap dalam karya ilmiahnya.
Ada beberapa cara untuk membantu menemukan permasalahan, diantaranya melalui
( a ) diskusi, ( b ) daya khayal dan ( c ) intuisi. Berikut ini ketiga cara tersebut yaitu :
a) Diskusi
Diskusi merupakan cara yang mudah dilakukan untuk menentukan permasalahan. Diskusi dapat dilakukan dengan teman atau penulis senior. Melalui diskusi dapat memberi berbagai alternatif pemecahan, yaitu :
1. Orang lain dapat melihat persoalan dari sisi lain sehingga memungkinkan memberi
ide-ide baru yang bermanfaat.
2. Dari berbagai pandangan peserta diskusi, dapat disintesikan menjadi suatu ide baru.
3. Melalui diskusi, masing-masing ide akan mendapat kritikan sehingga diperoleh ide
baru yang benar-benar solid.
4. Masalah yang ditemukan melalui diskusi benar-benar masalah yang sangat bermanfaat,
bukan merupakan permasalah peneliti sendiri.
5. Kemungkinan terjadi pengulangan permasalahan menjadi semakin kecil, karena telah
dicermati oleh orang banyak ( peserta diskusi ).
b) Menggunakan Potensi Daya Khayal
Pada situasi tertentu, terutama saat bebas dari pekerjaan fisik maupun mental yang cukup melelahkan, orang sering melanturkan pikiran ke arah di luar persoalan yang
sedang dihadapi. Proses ini tentunya akan menyerap energi yang sebenarnya dapat
dimanfaatkan untuk memecahkan masalah- masalah yang penting.
Pada waktu luang misalnya menjelang tidur sering pikiran diperbolehkan berkembang kemana-mana secara leluasa bahkan apa yang ada dalam pikiran adalah hal-hal yang sangat aneh ( sangat tidak mungkin ). Memanjakan pikiran secara leluasa ini dinamakan melamun. Melamun adalah aktifitas yang seharusnya dijauhi karena tidak akan menemukan pemecahan masalah maupun menemukan masalah dalam kontek penelitian .
Aktifitas otak yang mirip dengan melamun adalah daya khayal. Kedua aktifitas ini sebenarnya tidak sama, hanya orang sering menyamakan kedua pengertian tersebut. Kalau orang sedang memecahkan masalah, langkah-langkah yang lazim ditempuh adalah menghubung-hubungkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui pengalaman praktek maupun melalui membaca buku yang relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi. Namun demikian terkadang munculnya pemikiran untuk memecahkan masalah tanpa berdasarkan pengalaman yang telah diperoleh dimasa lalu. Orang dapat menghubungkan beberapa fenomena tanpa melalui tahap – tahap yang lazim. Kemampuan ini dinamakan kemampuan daya khayal. Tiap orang mempunyai day khayal tidak sama, tergantung sejauh mana mereka sering melatih. Kemampuan daya khayal juga dipengaruhi oleh pembawaan sejak lahir.
Potensi daya khayal dapat ditingkatkan dengan cara sering menggunakan daya khayal setiap akan memecahkan masalah apa saja atau saat mencari permasalahan penelitian. Dalam menggunakan daya khayal, coba bayangkan atau buat gambaran dalam pikiran tentang sesuatu yang berkaitan dengan apa yang diinginkan .
Dengan memiliki potensi daya khayal yang tinggi, dapat diterapkan potensi tersebut dalam mencari masalah penelitian. Daya khayal dapat dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi dalam mencari permasalahan penelitian. Kecuali itu daya khayal dapat digunakan untuk merangsang penerapan hasil penelitian yang lebih tepat, sebab dengan memanfaatkan daya khayal seseorang dapat membayangkan implikasi-implikasi hasil penelitian. Daya khayal memungkinkan kita untuk menjelajah ke daerah yang belum kita kinal bersamaan dengan itu akal memeriksa temuan-temuan dengan lebih teliti .
c) Memanfaatkan Intuisi
Dalam memecahkan masalah atau mencari masalah penelitian, intuisi sangat besar manfaatnya. Istilah intuisi ada yang menyebut firasat atau ilham. Pengertian tersebut pada dasarnya sama yaitu suatu pengertian atau penjelasan yang datangnya secara tiba-tiba.
Terjadinya intuisi tidak tentu datangnya, maka sebaiknya jika kita mendapat intuisi, langsung dicatat. Sering terjadi timbulnya intuisi justru pada saat seseorang tidak memikirkan secara sadar mengenai masalah yang dihadapi. Sebagai contoh, yaitu peristiwa yang dialami oleh Archimedes. Waktu beliau sedang merendam diri dalam bak air, tiba-tiba ditemukan pemecahan masalah yang sedang dipikirkan yang dikenal “ hukum Archimedes “.
Intuisi dapat terjadi pada saat sedang tidur. Singer, penemu mesin jahit menemukan lubang jarum mesin jahit pada ujungnya ketika dia dalam tekanan yang sangat berat dari pihak yang memberi proyeknya. Dia bermimpi dikepung orang-orang liar yang menusuk – nusuk dengan tombak yang berlobang diujungnya.
Pada prinsipnya intuisi dapat timbul kapan saja, yaitu pada saat orang sedang berusaha memecahkan masalah atau beristirahat sebentar setelah berusaha dan mengalihkan pikiran ke hal-hal lain. Bagaimana cara memperoleh intuisi ? Ada beberapa cara untuk memperoleh intuisi yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan permasalahan penelitian atau tujuan – tujuan lain, yaitu :
1. Pikirkan secara mendalam mengenai persoalan hingga pikiran kita jenuh. Dengan penjenuhan pikiran, akan memungkinkan bekerjanya pikiran bawah sadar.
2. Melepaskan diri dari semua persoalan atau gangguan yang selama ini dipikirkan. Persoalan keluarga, kekacauan pikiran, sangat mengganggu perolehan intuisi.
3. Gunakan waktu luang untuk benar-benar beristirahat setelah usaha keras dilakukan. Pekerjaan yang tidak membutuhkan usaha mental seperti mengerjakan hobi ( memancing, rekreasi ), berjalan-jalan, kerja fisik ringan sering membantu memperoleh intuisi.
4. Menciptakan rangsangan positif dengan melalui
( a ) diskusi, b ) membaca tulisan ilmiah ( hasil-hasil penelitian ), dan ( c )
membaca tulisan yang bertentangan dengan pandangan kita.
Secara substantif, masalah yang akan diangkat menjadi karya ilmiah dituntut memenuhi kriteria, antara lain :
1. Tepat waktu, yaitu masalah yang sedang hangat diperbincangkan saat ini.
2. Menjawab masalah praktis yang mendesak untuk dipecahkan.
3. Masalah yang diangkat berdampak luas dalam masyarakat.
4. Mempertajam konsep yang sudah ada.
5. Originalitas, yaitu masalahnya benar-benar baru.
Ditinjau dari tingkat urgensinya permasalahan dapat dikelompokkan menjadei tiga, yaitu:
1.Pseudo problem, yaitu masalah yang semu, artinya masalah tersebut masih pada taraf yang tidak begitu membahayakan bahkan jika tidak diatasi tidak begitu berdeampak negatif terhadap lingkungannya.
2. Actual problem, yaitu masalah yang dirasakan oleh kelompok tertentu dan jika tidak diatasi, kelompok tersebut merasa terganggu. Bentuk teknologi yang digunakan untuk mengatasi masalah yang dikategorikan actual problem tidak teknologi baru, tetapi orang lain di tempat berbeda mungkin sudah pernah mengetahui atau pernah melakukan pemecahannya.
3. Genuine problem, yaitu masalah yang benar-benar baru, artinya cara pemecahan masalah belum pernah dilakukan orang lain.
Dari ketiga kelompok tersebut sedapat mungkin dicari permasalahan yang genuine, jika tidak mampu mengatasi masalah yang sifatnya genuine problem, actual problem masih dapat di buat untuk karya ilmiah. Sedapat mungkin hindari masalah yang semu (problem).
Sumber-sumber yang bisa dijadikan acuan dalam mencari permasalahan antara lain:
1. Inventarisasi permasalahan di departemen-departemen yang biasa disebar ke
Bappeda/ Kanwil.
2. Permasalahan yang timbul melalui polemik surat kabar.
3. Permasalahan yang terlontar lewat jurnal-jurnal profesional.
4. Kristalisasi pengalaman pribadi di lapangan.
5. Saran-saran skripsi/ tesis yang dibuat orang lain.
6. Pengamatan
7. Kepustakaan yang relevan dgn studi kita
8. Mata kuliah yang kita programkan
9. Buku, dan abstrak
10. Seminar
11. Pakar, dan teman-teman
Ciri-ciri masalah yang baik dalam Penelitian
- Topik yg dipilih sangat menarik
- Pemecahan masalah mempunyai kontribusi dalam labangan pekerjaan atau bidang
tertentu
- Merupakan hal baru
- Mengundangan rancangan yang kompleks
- Dapat diselesaikan dlm waktu yg diinginkan
- Tidak bertentangan dengan moral
Rumusan masalah yang baik dalam Penelitian
- Didukung oleh latar belakang masalah dan pejelasan mengenai pentingnya masalah
diteliti
- Memuat variabel-variabel dan kaitan antar variabel yg mjd perhatian peneliti
- Memberikan penjelasan atau definisi setiap variabel (konseptual & operasional)
CONTOH:
1. Apakah ada pengaruh penggunaan kalkulator terhadap hasil belajar matematika siswa
SD?
2. Apakah ada hubungan positif antara kemampuan spatial dengan hasil belajar geometri
siswa SMP?
3. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diberi metode
PS dengan yang tidak?
Senin, 05 April 2010
Pra Penulisan Karya Ilmiah
-> Kerangka Penyusunan Karya ilmiah
Kerangka karya ilmiah terdiri dari:
1. Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Abstrak/Ringkasan
4. Kata Pengantar
5. Daftar Isi
6. Daftar Tabel
7. Daftar Gambar
8. Daftar Lampiran
9. Daftar Istilah dan atau Daftar Singkatan ( kalau ada )
10.BAB I Pendahuluan ( latar belakang, identifikasi masalah, maksud dan tujuan,
kegunaan penelitian, kerangka pemikiran)
11.BAB II Tinjauan Pustaka
12.BAB III Bahan dan Metode Penelitian (bentuk penelitian, subjek penelitian, ukuran
sampel, definisi operasional, variabel penelitian, prosedur penelitian, cara
pemeriksaan/pengukuran, analisis data, tempat dan waktu penelitian, jadwal
penelitian, alur penelitian)
13.BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
14.BAB V Kesimpulan dan Saran
15.Daftar Pustaka
16.Lampiran
-> Teknik Penyusunan Karya ilmiah
Dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap antara lain.
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Pengumpulan data.
3. Tahap Pengorganisasian.
4. Tahap Pemeriksaan/ penyunting konsep.
5. Tahap Penyajian
1. Tahap Persiapan.
Dalam tahap persiapan dilakukan:
a. Pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkan
i. Topik yang akan di pilih harus yang ada di sekitar penulis.
ii. Topik yang di pakai harus topik yang paling menarik dari topik yangada.
iii. Pembahasan harus terpusat pada segi lingkup sempit dan terbatas.
iv. Memilki data dan fakta yang obyektif dan mencukupi.
v. Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya meskipun sedikit.
vi. Harus memiliki sumber acuan atau bahan kepustakaan yang bisa
dijadikan referensi.
b. Pembatasan topik atau penentuan judul
i. Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah dilakukan.
ii. Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisn karya ilmiah atau
setelah selesai penulisan karya ilimiah tersebut.
iii. Penentuan judul karya ilmiah harus dapat menjawab dari pertanyaan yang
mengandung unsur 4W + 1H yakni what (apa), why (kenapa), who (siapa),
where (dimana) dan how (bagaimana).
c. Pembuatan kerangka karangan (outline)
i. Membimbing untuk memulai menyusun kerangka karangan.
ii. Membuat pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak menjadi tumpang tindih
dalam penulisannya.
iii. Pembuatanrencana daftar isi dari karya ilmiah.
2. Tahap penulisan data
a. Pencarian keterangan dari bhn bacaan atau referensi.
b. Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan
dijadikan tema dalam karya ilmiah.
c. Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti dan dijadikan tema
dari karya ilmiah.
d. Melakukan percobaan dilabolatorium atau pengujian data di lapangan.
3. Tahap Pengorganisasian dan pengkonsepan
a. Pengelompokan bahan untuk mengorganisasikan bagian mana yang akan
temasuk dalam karya ilmiah, data yang telah terkumpul diseleksi kembali dan
dikelompokan sesuai jenis, sifat dan bentuk data.
b. Pengkonsepan karya ilmiah dilakuakn sesuai dengan urutan dalam kerangka
karangan yang telah ditetapkan.
4. Tahap pemeriksaan atau penyuntingan konsep (editing), tahap ini bertujuan untuk :
a. Melengkapi data yang dirasa masih kurang.
b. Membuang dan mengedit data yang dirasa tidak relevan serta tidak cocok dengan
pokok bahasan karya ilmiah.
c. Mengedit setiap kata-kata dalam karya ilmiah untuk menghindari penyajian bahan-
bahan secara berulang-ulang atau terjadi tumpang tindih antara tulisan satu
dengan tulisan yang lain.
d. Mengedit setiap bahasa yang ada dalam karya ilmiah untuk menghindari
pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh dalam penyusunan dan pemilihan
kata,penyesuaian kalimat, penyesuaian paragraph, maupun penerapan kaidah ejaan
sesuai EYD.
5. Tahap Penyajian
a. Teknik penyajian karya ilmiah harus dengan memperhatikan :
i. Segi kerapian dan kebersihan.
ii. Tata letak (layout) unsure-unsur dalam format karya ilmiah, misal
pada halaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar
grafik, daftar gambar,daftar pustaka, dll.
iii. Memakai standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, missal standar
penulisan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka dan penggunaan bahasa
sesuai dengan EYD.
-> BAB III PENUTUP
Disemua uraian penutup yang dimuat dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang harus dicermati. Pertama , sebuah karya ilmiah sebagai mana dalam makalah ini adalah suatu pemikiran yang utuh. Karya tersebut merupakan sebuah gagasan lengkap, yang mungkin sangat rumit atau sederhana saja. Dalam menulis karya ilmiah, seorang penulis diharapkan mampu untuk mengkomunikasikan temuan atau gagasan ilmiahnya secara lengkap dan gambling agar mudah dipahami. Kedua, menulis karya ilmiah berbeda dengan karya imajinatif. Persiapan yang seksama dan pemikiran yang matang dan runtut perlu diperhatikan. Ketiga, dalam menyampaikan pemikirannya, penulis tidak mungkin mengabaikan perkembangan yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang terjadi dalam bidang keilmuannya sendiri. Keempat, sarana utama dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran adalah bahasa,. Bahasa sebuah sistem komunikasi memiliki aturan- aturan sendiri sekalipun sistem itu terus berkembang. Terakhir adalah masalah tanggung jawab, sekalipun kata ini tidak banyak muncul dalam buku ini, tulisan-tulisan yang ada mengajak pembaca untuk menyadari bahwa seorang penulis mempunyai berbagai tanggung jawab.
Dalam menulis kerangka tulisan ilmiah yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian dalam tulisan ilmiah, terutama dalam jurnal ilmiah antara lain, judul tulisan, nama dan alamat penulis, abstrak, pengantar, permasalahan penelitian, bahan dan cara penelitian, hasil, pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar putaka.
Kerangka karya ilmiah terdiri dari:
1. Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Abstrak/Ringkasan
4. Kata Pengantar
5. Daftar Isi
6. Daftar Tabel
7. Daftar Gambar
8. Daftar Lampiran
9. Daftar Istilah dan atau Daftar Singkatan ( kalau ada )
10.BAB I Pendahuluan ( latar belakang, identifikasi masalah, maksud dan tujuan,
kegunaan penelitian, kerangka pemikiran)
11.BAB II Tinjauan Pustaka
12.BAB III Bahan dan Metode Penelitian (bentuk penelitian, subjek penelitian, ukuran
sampel, definisi operasional, variabel penelitian, prosedur penelitian, cara
pemeriksaan/pengukuran, analisis data, tempat dan waktu penelitian, jadwal
penelitian, alur penelitian)
13.BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
14.BAB V Kesimpulan dan Saran
15.Daftar Pustaka
16.Lampiran
-> Teknik Penyusunan Karya ilmiah
Dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap antara lain.
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Pengumpulan data.
3. Tahap Pengorganisasian.
4. Tahap Pemeriksaan/ penyunting konsep.
5. Tahap Penyajian
1. Tahap Persiapan.
Dalam tahap persiapan dilakukan:
a. Pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkan
i. Topik yang akan di pilih harus yang ada di sekitar penulis.
ii. Topik yang di pakai harus topik yang paling menarik dari topik yangada.
iii. Pembahasan harus terpusat pada segi lingkup sempit dan terbatas.
iv. Memilki data dan fakta yang obyektif dan mencukupi.
v. Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya meskipun sedikit.
vi. Harus memiliki sumber acuan atau bahan kepustakaan yang bisa
dijadikan referensi.
b. Pembatasan topik atau penentuan judul
i. Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah dilakukan.
ii. Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisn karya ilmiah atau
setelah selesai penulisan karya ilimiah tersebut.
iii. Penentuan judul karya ilmiah harus dapat menjawab dari pertanyaan yang
mengandung unsur 4W + 1H yakni what (apa), why (kenapa), who (siapa),
where (dimana) dan how (bagaimana).
c. Pembuatan kerangka karangan (outline)
i. Membimbing untuk memulai menyusun kerangka karangan.
ii. Membuat pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak menjadi tumpang tindih
dalam penulisannya.
iii. Pembuatanrencana daftar isi dari karya ilmiah.
2. Tahap penulisan data
a. Pencarian keterangan dari bhn bacaan atau referensi.
b. Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan
dijadikan tema dalam karya ilmiah.
c. Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti dan dijadikan tema
dari karya ilmiah.
d. Melakukan percobaan dilabolatorium atau pengujian data di lapangan.
3. Tahap Pengorganisasian dan pengkonsepan
a. Pengelompokan bahan untuk mengorganisasikan bagian mana yang akan
temasuk dalam karya ilmiah, data yang telah terkumpul diseleksi kembali dan
dikelompokan sesuai jenis, sifat dan bentuk data.
b. Pengkonsepan karya ilmiah dilakuakn sesuai dengan urutan dalam kerangka
karangan yang telah ditetapkan.
4. Tahap pemeriksaan atau penyuntingan konsep (editing), tahap ini bertujuan untuk :
a. Melengkapi data yang dirasa masih kurang.
b. Membuang dan mengedit data yang dirasa tidak relevan serta tidak cocok dengan
pokok bahasan karya ilmiah.
c. Mengedit setiap kata-kata dalam karya ilmiah untuk menghindari penyajian bahan-
bahan secara berulang-ulang atau terjadi tumpang tindih antara tulisan satu
dengan tulisan yang lain.
d. Mengedit setiap bahasa yang ada dalam karya ilmiah untuk menghindari
pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh dalam penyusunan dan pemilihan
kata,penyesuaian kalimat, penyesuaian paragraph, maupun penerapan kaidah ejaan
sesuai EYD.
5. Tahap Penyajian
a. Teknik penyajian karya ilmiah harus dengan memperhatikan :
i. Segi kerapian dan kebersihan.
ii. Tata letak (layout) unsure-unsur dalam format karya ilmiah, misal
pada halaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar
grafik, daftar gambar,daftar pustaka, dll.
iii. Memakai standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, missal standar
penulisan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka dan penggunaan bahasa
sesuai dengan EYD.
-> BAB III PENUTUP
Disemua uraian penutup yang dimuat dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang harus dicermati. Pertama , sebuah karya ilmiah sebagai mana dalam makalah ini adalah suatu pemikiran yang utuh. Karya tersebut merupakan sebuah gagasan lengkap, yang mungkin sangat rumit atau sederhana saja. Dalam menulis karya ilmiah, seorang penulis diharapkan mampu untuk mengkomunikasikan temuan atau gagasan ilmiahnya secara lengkap dan gambling agar mudah dipahami. Kedua, menulis karya ilmiah berbeda dengan karya imajinatif. Persiapan yang seksama dan pemikiran yang matang dan runtut perlu diperhatikan. Ketiga, dalam menyampaikan pemikirannya, penulis tidak mungkin mengabaikan perkembangan yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang terjadi dalam bidang keilmuannya sendiri. Keempat, sarana utama dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran adalah bahasa,. Bahasa sebuah sistem komunikasi memiliki aturan- aturan sendiri sekalipun sistem itu terus berkembang. Terakhir adalah masalah tanggung jawab, sekalipun kata ini tidak banyak muncul dalam buku ini, tulisan-tulisan yang ada mengajak pembaca untuk menyadari bahwa seorang penulis mempunyai berbagai tanggung jawab.
Dalam menulis kerangka tulisan ilmiah yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian dalam tulisan ilmiah, terutama dalam jurnal ilmiah antara lain, judul tulisan, nama dan alamat penulis, abstrak, pengantar, permasalahan penelitian, bahan dan cara penelitian, hasil, pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar putaka.
Sabtu, 27 Maret 2010
Metode Ilmiah
--> METODE
Definisi Metode dalam kamus besar bahasa Indonesia, Metode adalah cara yang teratur dan
terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb) atau cara kerja
yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang
ditentukan.
Menurut Peter R. Senn metode adalah suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang
mempunyai langkah-langkah sistematis. Dan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam
mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.
Jadi, Metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai dan mengetahui maksud atau
tujuan yang telah ditentukan yang dengannya tujuan tersebut dapat dicapai dengan mudah.
--> METODE ILMIAH
Menurut KBBI adalah metode atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh
pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis.
Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan
fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan
eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi
suatu teori ilmiah.
Menurut Taqiyuddin an-Nabhani, dalam at-Tafkir: Ia menyebut metode ilmiah sama dengan
metode berpikir ilmiah.
Menurut Dictionary of Behavioral Science, Metode ilmiah adalah Tekhnik-tekhnik dan
prosedur-prosedur pengamatan dan percobaan yang menyelidiki alam yang dipergunakan oleh
ilmuawan-ilmuwan untuk mengolah fakta-fakta, data, dan penafsirannya sesuai dengan
asas-asas dan aturan-aturan tertentu.
Menurut Arturo Rosenblueth, “Metode ilmiah adalah suatu prosedur dan ukuran yang dipakai
oleh ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus mereka”.
Menurut Penelitian, Metode ilmiah adalah suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur
tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian
cara dan langkah ini dalam dunia ke ilmuan disebut metode. Dan untuk menegaskan bidang ke
ilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).
Jadi, Metode Ilmiah adalah proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis
berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam
usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis
tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali,
hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
--> LANGKAH-LANGKAH METODE ILMIAH
James B. Conant memberikan rumusan metode ilmiah menjadi delapan langkah, yaitu :
a. Kenali bahwa terdapat suatu situasi yang sifatnya ”tak menentu” (unpredictable),
sehingga merupakan suatu situasi bertentangan atau kabur yang mengharuskan penyelidikan.
b. Nyatakan masalah itu dalam istilah spesifik
c. Rumuskan suatu hipotesis kerja
d. Rancang suatu metode penyelidikan yang terkendalikan dengan jalan pengamatan atau
dengan jalan percobaan ataupun kedua-duanya
e. Kumpulkan dan catat bahan pembuktian atau data ‘kasar’.
f. Alihkan data kasar ini menjadi suatu pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan.
g. Tibalah pada suatu penegasan yang tampak dapat dipertanggungjawabkan. Kalau penegasan
itu betul, ramalan-ramalan dapat dibuat darinya.
h. Satu padukan penegasan yang dapat dipertanggungjawabkan itu, kalau terbukti merupakan
pengetahuan baru dalam ilmu, dengan kumpulan pengetahuan yang telah mapan.
--> Kelemahan-kelemahan dari Metode Berpikir Ilmiah
Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya,
asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai
berikut:
a. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek
material yang dapat di indera.
b. Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi
sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya,
kemudian memulai pengamatan dan percobaan atas materi.
c. Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).
Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain. Dikatakan, bahwa “…Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara ontologi, ilmu membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang memisahkan antara ilmu dan agama…perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan berbedanya metode dalam
Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu…demikian juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk dalam memecahkan masalah tersebut. Humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya”.
Menurut Muhammad Abdurrahman dalam at-Tafkeer metode ilmiah adalah
“metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada ilmu yang termasuk dalam humaniora…..”,
hal ini dikarenakan bidang-bidang yang termasuk ke dalam humaniora tidak membahas perkara-perkara fisik yang dapat diukur dan diujicobakan. Meskipun demikian, beberapa aspek pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiaannya, misalnya saja aspek pengajaran bahasa sastra dan metematika. Dalam hal ini masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah berbagai aspek proses belajar-mengajar.
--> Unsur Metode Ilmiah
Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
1. Karakterisasi (observasi dan pengukuran)
2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan
pengukuran)
3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
--> Contoh Metode Ilmiah
Setiap langkah diilustrasikan dengan contoh dari penemuan struktur yaitu :
1. Karakterisasi
2. Hipotesis
3. Prediksi
4. Eksperimen
Keterangannya :
1. Karakterisasi
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam
proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang
dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses
penentuan (definisi) dan observasi. Observasi yang dimaksud seringkali memerlukan
pengukuran dan perhitungan yang cermat.
Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti labora
torium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi
seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan
ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu
bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil
pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk
grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan
regresi.
2. Hopotesis
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi
tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau observasi
suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya
berupa probabilitas.
3. Eksperimen
Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis, melainkan meningkatkan
probabilitas kebenaran hipotesis tersebut. Hasil eksperimen secara mutlak bisa
menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi
dari hipotesis.
4. Evaluasi dan pengulangan
Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif, yaitu berulang. Pada langkah yang
manapun, seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena
pertimbangan tertentu. Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat
membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari
Definisi Metode dalam kamus besar bahasa Indonesia, Metode adalah cara yang teratur dan
terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb) atau cara kerja
yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang
ditentukan.
Menurut Peter R. Senn metode adalah suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang
mempunyai langkah-langkah sistematis. Dan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam
mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.
Jadi, Metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai dan mengetahui maksud atau
tujuan yang telah ditentukan yang dengannya tujuan tersebut dapat dicapai dengan mudah.
--> METODE ILMIAH
Menurut KBBI adalah metode atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh
pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis.
Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan
fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan
eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi
suatu teori ilmiah.
Menurut Taqiyuddin an-Nabhani, dalam at-Tafkir: Ia menyebut metode ilmiah sama dengan
metode berpikir ilmiah.
Menurut Dictionary of Behavioral Science, Metode ilmiah adalah Tekhnik-tekhnik dan
prosedur-prosedur pengamatan dan percobaan yang menyelidiki alam yang dipergunakan oleh
ilmuawan-ilmuwan untuk mengolah fakta-fakta, data, dan penafsirannya sesuai dengan
asas-asas dan aturan-aturan tertentu.
Menurut Arturo Rosenblueth, “Metode ilmiah adalah suatu prosedur dan ukuran yang dipakai
oleh ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus mereka”.
Menurut Penelitian, Metode ilmiah adalah suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur
tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian
cara dan langkah ini dalam dunia ke ilmuan disebut metode. Dan untuk menegaskan bidang ke
ilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).
Jadi, Metode Ilmiah adalah proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis
berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam
usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis
tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali,
hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
--> LANGKAH-LANGKAH METODE ILMIAH
James B. Conant memberikan rumusan metode ilmiah menjadi delapan langkah, yaitu :
a. Kenali bahwa terdapat suatu situasi yang sifatnya ”tak menentu” (unpredictable),
sehingga merupakan suatu situasi bertentangan atau kabur yang mengharuskan penyelidikan.
b. Nyatakan masalah itu dalam istilah spesifik
c. Rumuskan suatu hipotesis kerja
d. Rancang suatu metode penyelidikan yang terkendalikan dengan jalan pengamatan atau
dengan jalan percobaan ataupun kedua-duanya
e. Kumpulkan dan catat bahan pembuktian atau data ‘kasar’.
f. Alihkan data kasar ini menjadi suatu pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan.
g. Tibalah pada suatu penegasan yang tampak dapat dipertanggungjawabkan. Kalau penegasan
itu betul, ramalan-ramalan dapat dibuat darinya.
h. Satu padukan penegasan yang dapat dipertanggungjawabkan itu, kalau terbukti merupakan
pengetahuan baru dalam ilmu, dengan kumpulan pengetahuan yang telah mapan.
--> Kelemahan-kelemahan dari Metode Berpikir Ilmiah
Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya,
asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai
berikut:
a. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek
material yang dapat di indera.
b. Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi
sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya,
kemudian memulai pengamatan dan percobaan atas materi.
c. Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).
Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain. Dikatakan, bahwa “…Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara ontologi, ilmu membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang memisahkan antara ilmu dan agama…perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan berbedanya metode dalam
Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu…demikian juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk dalam memecahkan masalah tersebut. Humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya”.
Menurut Muhammad Abdurrahman dalam at-Tafkeer metode ilmiah adalah
“metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada ilmu yang termasuk dalam humaniora…..”,
hal ini dikarenakan bidang-bidang yang termasuk ke dalam humaniora tidak membahas perkara-perkara fisik yang dapat diukur dan diujicobakan. Meskipun demikian, beberapa aspek pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiaannya, misalnya saja aspek pengajaran bahasa sastra dan metematika. Dalam hal ini masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah berbagai aspek proses belajar-mengajar.
--> Unsur Metode Ilmiah
Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
1. Karakterisasi (observasi dan pengukuran)
2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan
pengukuran)
3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
--> Contoh Metode Ilmiah
Setiap langkah diilustrasikan dengan contoh dari penemuan struktur yaitu :
1. Karakterisasi
2. Hipotesis
3. Prediksi
4. Eksperimen
Keterangannya :
1. Karakterisasi
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam
proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang
dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses
penentuan (definisi) dan observasi. Observasi yang dimaksud seringkali memerlukan
pengukuran dan perhitungan yang cermat.
Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti labora
torium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi
seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan
ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu
bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil
pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk
grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan
regresi.
2. Hopotesis
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi
tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau observasi
suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya
berupa probabilitas.
3. Eksperimen
Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis, melainkan meningkatkan
probabilitas kebenaran hipotesis tersebut. Hasil eksperimen secara mutlak bisa
menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi
dari hipotesis.
4. Evaluasi dan pengulangan
Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif, yaitu berulang. Pada langkah yang
manapun, seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang lebih awal karena
pertimbangan tertentu. Ketidakberhasilan untuk membentuk hipotesis yang menarik dapat
membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek yang sedang dipelajari
Langganan:
Postingan (Atom)